Menolak Takwil

Faham salafiyah tampak ketat dalam hal takwil, bahkan dalam kitab Dasar-dasar Akidah Para Imam Salaf ditulis jelas sebuah judul “Menolak Takwil.” Judul itu menjelaskan:

   Takwil bagi ulama mutakallimin umumnya menuntut dijadikannya akal sebagai dasar penafsiran yang mengalahkan syara’. Sehingga jika terjadi kontradiksi antara dalil syar’i dan aqli, mereka menakwilkan nash disesuaikan dengan akal, seperti menakwilkan dalil ru’yatullah pada hari kiamat, dalil ‘uluwullah, ayat-ayat tentang sifat (Allah) dan lainnya. Sedang ulama salaf menolak takwil jenis ini dan menyalahkan orang yang mengucapkannya. Mereka (Salaf) begitu membencinya, karena takwil ini mengakibatkan kepada peniadaan (isi) nash dan kelancangan terhadap makna dengan menyusupkan ra’yu yang bertujuan merusak syari’ah, menyesatkan orang yang meyakininya dan merapuhkan akidah yang terhunjam kuat di dada serta mengeruhkan akidah yang terang. Takwil yang sahih menurut para salaf ialah yang sesuai dengan apa yang dimaksud oleh nash dan yang dibawa oleh Sunnah, sedang takwil lainnya rusak dan menyimpang. 

    Takwil menurut salaf sebagai berikut:
  فالتأويل في كتاب الله وسنة رسوله ص م : هو الحقيقة التي يؤول اليها الكلام.
    Takwil dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah Rasul saw adalah maksud dari ucapan itu sendiri.
    Definisi itu dijelaskan: Maka takwil khabar (bukan kalimat perintah atau larangan, pen) adalah ujud (‘ain) yang dikhabarkannya. Dan takwil perintah (al-amr) adalah perbuatan yang diperintahkan itu sendiri. Sebagaimana Aisyah ra berkata: Adalah Rasulullah saw berucap dalam ruku’nya:
   سبحانك اللهم ربنا وبحمدك اللهم اغفرلي
beliau mentakwilkan Al-Qur’an

فسبح بحمد ربك واستغفره إنه كان توابا.(مسلم 484، وأبو داود، وابن ماجة والنسائ، وأحمد).
    Selanjutnya dijelaskan: Dan adapun suatu khabar seperti khabar tentang Allah dan hari akhir, maka ini kadang tidak diketahui takwil kejadian sebenarnya, karena dia tidak diketahui dengan semata-mata murni khabar itu. Karena hal yang dikhabarkan apabila belum tergambarkan atau belum diketahui sebelumnya, maka tidak diketahui kenyataannya, yang hal itu takwilnya adalah hakekat khabar itu sendiri. Dan (kenyataan akherat dsb sebenarnya seperti apa, pen) inilah takwil yang tidak diketahui kecuali oleh Allah saja. 

   Takwil dalam pembicaraan kaum muta’akhirin dari kalangan fuqaha’ dan mutakallimin adalah mengalihkan lafal dari kemungkinan yang kuat kepada kemungkinan yang lemah karena adanya dilalah yang mewajibkan demikian. Dan ini adalah takwil yang dipertentangkan orang dalam banyak hal baik khabariyah  (kalimat berita) maupun thalabiyah (kalimat perintah, larangan dsb). Maka takwil yang benar adalah yang sesuai dengan apa yang ditunjuk nash kitab dan sunnah. Sedang yang menyelisihinya adalah takwil rusak (fasid).

    Ta’wil menurut Muta’akhirin, adalah memalingkan lafal dari makna dhahirnya, dan dengan inilah para pengubah (muharrifun) menggagahi nash. Dan mereka mengatakan: “Kami menakwilkan apa yang menyelisihi perkataan kami”. Maka mereka telah menamakan tahrif (pengubahan nash) dengan ta’wil. 

   Demikianlah penolakan kaum Salaf terhadap takwil.
    Tentang Allah di atas ‘Arsy
    Menurut Salaf, Allah itu Maha Tinggi di atas langit sesuai dengan keagungan Allah dan tidak sama dengan tingginya makhluk, karena sifat Mahatingginya itu adalah sifat yang sempurna bagi Allah. Hal itu sudah ditetapkan sendiri oleh Allah dalam kitabNya dan sabda Rasulullah saw, sedang fitrah dan cara berfikir yang sehat juga mendukung kenyataan tersebut.
   Al-Qur’an, hadits shahih, naluri dan cara berfikir yang sehat telah mendukung kenyataan bahwa Allah berada di atas ‘Arsy.
1.      Firman Allah:
  الرحمن على العرش استوى. (طه: 5).
Allah yang Maha Pemurah bersemayam di atas ‘Arsy.” (Thaha:5).
   Pengertian ini sebagaimana diriwayatkan Bukhari dari beberapa Tabi’in.
2.      Firman Allah:
Apakah kamu merasa aman terhadap Yang di langit? Bahwa Dia akan menjungkir balikkan bumi bersama kamu....” (Al-Mulk: 16).
Menurut Ibnu Abbas, yang dimaksud dengan “Yang di langit” adalah Allah, sebagaimana dituturkan dalam Kitab Tafsir Ibnul Jauzi.
3.      Firman Allah:
Mereka takut kepada Tuhan mereka yang berada di atas mereka....” (An-Nahl: 50).
4.      Firman Allah tentang Nabi Isa ‘as.
Tetapi Allah mengangkatnya kepada-Nya....” (An-Nisa’: 158).
Maksudnya, Allah menaikkan Nabi Isa ke Langit.
5.      Firman Allah:
Dan Dia lah Allah (yang disembah) di langit....” (Al-An’aam: 3).
Ibnu Katsir mengomentari ayat ini sebagai berikut: “Para ahli tafsir sependapat bahwa kita tidak akan berkata seperti ucapan kaum Jahmiyah yang mengatakan bahwa Allah tidak berada di setiap tempat. Maha Suci Allah dari ucapan mereka.” 
6.   Rasulullah saw mi’raj ke langit ke tujuh dan difirmankan kepadanya oleh Allah serta diwajibkan untuk melakukan shalat lima waktu. (Riwayat Bukhari dan Muslim).
7.   Rasulullah saw pernah menanyai seorang budak  wanita: “Di mana Allah?” Jawabnya: “Di langit” Rasulullah bertanya lagi: “Siapa saya?” Dijawab lagi: “Kamu Rasul Allah.” Lalu rasulullah bersabda: “Merdekakanlah dia, karena dia seorang mukminah.” (Riwayat Muslim).
Sabda Rasulullah saw:
   ‘Arsy itu berada di atas air, dan Allah berada di atas Arsy, Allah mengetahui keadaanmu.” (Hadits Hasan riwayat Abu Daud).


Bila Kiyai Menjadi Tuhan
Membedah Faham Keagamaan NU & Islam Tradisional
Oleh : Hartono Ahmad Jaiz

Kunjungi juga:

0 komentar:

Copyright © 2013 Situs Berita Islam