KOREKSI PEMAHAMAN AHMADIYYAH DAN SALAMULLAH

Bagian 3:

Secara logika, didalam banyak ayat al-Qur'an, Allah telah memerintahkan agar kita menteladani apa saja yang dicontohkan oleh Rasulullah Saw (Qs. al-Ahzaab 33:21), mengikuti apa-apa yang ditetapkan beliau (salah satunya Qs. at-Taghaabun 64:12 dan Qs. al-Anfaal 8:24) serta tidak membantah apa yang sudah ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya (Qs. al-Ahzaab 33:36)
Adalah sudah umum, bahwa orang yang paling mengenal diri kita dan tahu apa dan bagaimana tingkah keseharian kita hanyalah keluarga terdekat kita, orang tua, istri, anak, cucu, menantu maupun orang-orang yang tinggal dan hidup bersama kita dalam kurun waktu yang lama.
Begitupun dengan Rasul, tentunya orang yang paling banyak tahu dan mengerti tentang beliau adalah istri-istrinya, putri-putri kesayangannya, pamannya, keponakannya, cucunya, pengasuhnya dan baru para sahabatnya.
Pada awal pengangkatan Muhammad sebagai Nabi, beliau diperintahkan oleh Allah untuk mengajak terlebih dahulu keluarganya yang terdekat (Qs. asy-Syu'araa 26:210-214), dalam hal ini orang yang pertama kali mengikuti ajakan Rasul adalah istrinya yang tercinta, Khadijjah r.a, putri-putri beliau dari Khadijjah, kemudian saudara misannya yang telah tinggal bersama-sama dengan beliau, Ali Bin Abu Thalib dan baru selanjutnya menyebar kepada paman sekaligus saudara sesusuan beliau, Hamzah bin Abdul Mutholib dan sejumlah sahabatnya terdekat seperti Abu Bakar dan sebagainya.
Dalam beberapa Hadist lain yang diriwayatkan melalui jalur ahli Bait, Rasulullah Saw pernah bersabda :
"Wahai manusia, aku tinggalkan apa yang akan menghindarkan kamu dari kesesatan selama kalian berpegang teguh padanya, Kitab Allah dan 'Ittrahku, ahli Baitku."
(Riwayat Turmudzi dan Nasai dari Jabir).
"Aku tinggalkan padamu apa yang mencegah kamu dari kesesatan selama kamu berpegang teguh pada keduanya; Kitab Allah, tali penghubung yang terentang antara langit dan bumi, dan 'itrahku, ahli Baitku. Keduanya tidak akan berpisah sampai berjumpa denganku di al-Haud."
(Riwayat Ahmad dari Zaid bin Tsabit, diriwayatkan pula oleh Ibnu Abi Syaibah, abu Ya'la dan Ibnu Sa'ad dari Abu Sa'id serta Turmudzi dari Zaid bin arqam juga diriwayatkan oleh Muslim dalam Riyadhush-Shalihin).
Allah telah menjadikan orang-orang suci dari keluarga Nabi Ibrahim melalui keturunan Nabi Ismail dan Nabi Ishaq, maka hal yang sama juga dapat terjadi pada Nabi Muhammad Saw dan garis keturunannya kecuali diantara mereka yang ingkar.
"Sesungguhnya manusia yang paling mendekati Ibrahim adalah mereka yang mengikutinya dan Nabi ini (Muhammad Saw) serta orang-orang yang beriman (umatnya); adalah Allah pemimpin kaum Mu'minin."
(Qs. ali Imran 3:68)
Tatkala Nabi Ibrahim as ditunjuk oleh Allah selaku Imam bagi manusia, beliau bermunajat kepada Allah agar para keturunannya pun dapat menjadi orang-orang yang shaleh dan pengikutnya (Qs. al-Baqarah 2:124), namun dijawab oleh Allah bahwa petunjuk-Nya tidak berlaku bagi orang-orang yang zalim meskipun dari keturunan Nabi Ibrahim as.
Sementara itu berbeda dengan jawaban Allah untuk ahli Bait Nabi Ibrahim, Allah berfirman dalam al-Qur'an sehubungan dengan ahli Bait Nabi Muhammad Saw :
"Sesungguhnya Allah bermaksud untuk menghilangkan dosa dari kamu wahai ahli Bait dan menyucikan kamu dengan sebenarnya."
(Qs. al-Ahzab 33:33)
Jadi sekali lagi, apabila memang benar Imam al-Mahdi itu berasal dari keturunan Nabi Muhammad Saw sebagaimana isi Hadist yang kita jumpai dalam kalangan ahli Bait, maka semuanya sama sekali tidak bertentangan dengan al-Qur'an dan pemikiran yang wajar (rasionalitas).
"Dan orang-orang yang beriman dan di-ikuti oleh anak-cucu mereka dalam keimanannya itu, Kami akan hubungkan anak-cucu mereka dengan mereka serta Kami tidak mengurangi sedikitpun dari amal mereka, tiap-tiap orang bergantung dengan apa yang ia telah usahakan."
(Qs. ath-Thur 52:21)
Dalam salah satu Hadist yang diriwayatkan oleh Bukhari ketika menafsirkan surah al-Ahzab, yang juga diriwayatkan oleh Muslim dengan riwayat Ka'ab bin 'Ujarah :
"Ketika turun ayat ke-56 dalam surah al-Ahzaab yang memerintahkan orang-orang beriman untuk bersholawat kepada Nabi, bertanyalah para sahabat kepada Rasulullah Saw: 'Ya Rasulullah, mengenai ucapan salam yang harus kami tujukan pada anda, kamu telah mengerti. Tapi bagaimanakah kami mengucapkan sholawat ?"; Maka jawab beliau mengajarkan kepada mereka: 'Katakanlah: 'Allahumma Sholli'ala Muhammad wa'ala Ali Muhammad (Ya Allah, limpahkanlah rahmat-Mu atas Muhammad dan keluarga Muhammad)."
Sholawat ini juga yang senantiasa dibaca oleh semua umat Islam dari jemaah manapun ia dalam setiap sholat mereka tidak perduli apa dan bagaimana cara pandang mereka terhadap generasi Rasulullah Saw.
"Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bersholawat atas Nabi; Wahai orang-orang yang beriman, bersholawatlah atasnya dan ucapkanlah salam dengan sebenarnya."
(Qs. al-Ahzab 33:56)
Kembali kepada paham Mahdihisme yang terdapat dalam jemaah Ahmadiyah dan jemaah Salamullah, keduanya menisbatkan al-Qur'an surah ash-Shaff ayat 6 untuk merujuk kepada pribadi Rasul yang dinubuatkan oleh Nabi 'Isa al-Masih pada diri Mirza Ghulam Ahmad dan Ahmad Mukti.
"Hai bani Israil ! Sesungguhnya aku, utusan Allah kepadamu, membenarkan Taurat yang sudah ada sebelumku, dan memberi khabar gembira tentang seorang Rasul sesudahku, bernama Ahmad ! Tapi ketika ia datang kepada mereka membawa keterangan, Mereka berkata, "Ini satu sihir yang nyata !". (QS. Ash Shaff 61:6)
Dengan berdasarkan nama "Ahmad" ini, kedua jemaah sepakat menolak untuk menisbatkannya kepada Rasulullah Saw yang menurut mereka bernama "Muhammad" bin Abdullah bukan "Ahmad" bin Abdullah.
Sampai disini, pernyataan keduanya masih dapat kita terima, namun apabila secara bijak kita membuka beberapa buah berita Hadist yang dinisbatkan dari Rasulullah Saw maka akan kita dapati pula keterangan yang menyatakan bahwa "Ahmad" adalah salah satu dari beberapa nama dan gelar yang dimiliki oleh Muhammad bin Abdullah, utusan Allah.
Kedua nama ini berasal dari akar kata Hamd, yang berarti puji.
Kata Ahmad artinya orang yang banyak memuji, sedangkan kata Muhammad artinya orang yang sangat terpuji.
Nama Muhammad menunjukkan sifat kebesaran, kemenangan dan kemuliaan, yakni yang lazim disebut sifat Jalali.
Sejarah telah mencatat secara jujur dengan tinta emas mengenai kebesaran dan keagungan Nabi Muhammad Saw dalam berbagai bidangnya, baik mereka yang beriman kepadanya ataupun orang-orang yang sebenarnya mengambil sikap permusuhan dengan kebenaran yang beliau bawa dari Allah.
Nama besarnya akan tetap menjadi yang paling masyur sepanjang jaman, keagungan sosok Nabi umat Islam ini melampaui kebesaran tokoh-tokoh yang paling berpengaruh selama-lamanya.
Sedangkan nama "Ahmad", lebih menunjukkan sifat keindahan, keelokan dan kehalusan budi, yakni jang lazim disebut sifat Jamali.
Allah menyukai hal-hal yang indah, dan Dia senantiasa mempergunakan kata-kata yang halus dan indah dalam setiap firman-Nya yang tercatat dalam al-Qur'an, dan istimewa kepada Nabi-Nya yang berfungsi selaku "Khatamannabi", Allah lebih sering memanggil beliau dengan nama "ya ayyuhannabi" (wahai Nabi) dan bukan "wahai Muhammad" sebagaimana yang kita jumpai dalam ayat-ayat al-Qur'an yang lain manakala Allah memanggil para Nabi sebelumnya.
Nabi Muhammad Saw sebagaimana yang sudah diungkapkan, adalah sosok manusia yang berkepribadian tinggi, penuh welas asih dan sabar terhadap semua orang, baik mereka itu keluarganya, para sahabatnya bahkan juga terhadap perlakuan kejam para musuh-musuhnya.
Untuk ini Allah berfirman dalam al-Qur'an :
"Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang Rasul (yaitu Muhammad) dari antara kamu, berat baginya penderitaanmu, sangat menginginkan kebaikan bagi kamu; amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mu'min."
(QS. al-Bara'ah 9:128)
"Adalah karena rahmat dari Allah, kamu (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap kasar lagi berhati keras, tentulah mereka menjauhkan diri dari lingkunganmu."
(Qs. Ali Imran 3:159)
Inilah gambaran sesungguhnya dari nama "Ahmad" dan "Muhammad" yang melekat pada diri putera Abdullah dan Aminah dari garis keturunan Bani Hasyim yang merupakan generasi kesekian dari Nabi Ibrahim melalui benih Nabi Ismail as.


"STUDI KRITIS PEMAHAMAN ISLAM"
Oleh ARMANSYAH

Sponsor link:

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Siapakah orang-orang Hawa­riyyun pengikut Isa as.? Dan kenapa mereka dijuluki dengan nama itu?

MUSYAWARAH DALAM KEHIDUPAN BERMASYARAKAT DAN BERNEGARA

Hadits ke-233 Dari Kitab Shahih al-Bukhari