KOREKSI PEMAHAMAN AHMADIYYAH DAN SALAMULLAH

Bagian 3:

Secara logika, didalam banyak ayat al-Qur'an, Allah telah memerintahkan agar kita menteladani apa saja yang dicontohkan oleh Rasulullah Saw (Qs. al-Ahzaab 33:21), mengikuti apa-apa yang ditetapkan beliau (salah satunya Qs. at-Taghaabun 64:12 dan Qs. al-Anfaal 8:24) serta tidak membantah apa yang sudah ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya (Qs. al-Ahzaab 33:36)
Adalah sudah umum, bahwa orang yang paling mengenal diri kita dan tahu apa dan bagaimana tingkah keseharian kita hanyalah keluarga terdekat kita, orang tua, istri, anak, cucu, menantu maupun orang-orang yang tinggal dan hidup bersama kita dalam kurun waktu yang lama.
Begitupun dengan Rasul, tentunya orang yang paling banyak tahu dan mengerti tentang beliau adalah istri-istrinya, putri-putri kesayangannya, pamannya, keponakannya, cucunya, pengasuhnya dan baru para sahabatnya.
Pada awal pengangkatan Muhammad sebagai Nabi, beliau diperintahkan oleh Allah untuk mengajak terlebih dahulu keluarganya yang terdekat (Qs. asy-Syu'araa 26:210-214), dalam hal ini orang yang pertama kali mengikuti ajakan Rasul adalah istrinya yang tercinta, Khadijjah r.a, putri-putri beliau dari Khadijjah, kemudian saudara misannya yang telah tinggal bersama-sama dengan beliau, Ali Bin Abu Thalib dan baru selanjutnya menyebar kepada paman sekaligus saudara sesusuan beliau, Hamzah bin Abdul Mutholib dan sejumlah sahabatnya terdekat seperti Abu Bakar dan sebagainya.
Dalam beberapa Hadist lain yang diriwayatkan melalui jalur ahli Bait, Rasulullah Saw pernah bersabda :
"Wahai manusia, aku tinggalkan apa yang akan menghindarkan kamu dari kesesatan selama kalian berpegang teguh padanya, Kitab Allah dan 'Ittrahku, ahli Baitku."
(Riwayat Turmudzi dan Nasai dari Jabir).
"Aku tinggalkan padamu apa yang mencegah kamu dari kesesatan selama kamu berpegang teguh pada keduanya; Kitab Allah, tali penghubung yang terentang antara langit dan bumi, dan 'itrahku, ahli Baitku. Keduanya tidak akan berpisah sampai berjumpa denganku di al-Haud."
(Riwayat Ahmad dari Zaid bin Tsabit, diriwayatkan pula oleh Ibnu Abi Syaibah, abu Ya'la dan Ibnu Sa'ad dari Abu Sa'id serta Turmudzi dari Zaid bin arqam juga diriwayatkan oleh Muslim dalam Riyadhush-Shalihin).
Allah telah menjadikan orang-orang suci dari keluarga Nabi Ibrahim melalui keturunan Nabi Ismail dan Nabi Ishaq, maka hal yang sama juga dapat terjadi pada Nabi Muhammad Saw dan garis keturunannya kecuali diantara mereka yang ingkar.
"Sesungguhnya manusia yang paling mendekati Ibrahim adalah mereka yang mengikutinya dan Nabi ini (Muhammad Saw) serta orang-orang yang beriman (umatnya); adalah Allah pemimpin kaum Mu'minin."
(Qs. ali Imran 3:68)
Tatkala Nabi Ibrahim as ditunjuk oleh Allah selaku Imam bagi manusia, beliau bermunajat kepada Allah agar para keturunannya pun dapat menjadi orang-orang yang shaleh dan pengikutnya (Qs. al-Baqarah 2:124), namun dijawab oleh Allah bahwa petunjuk-Nya tidak berlaku bagi orang-orang yang zalim meskipun dari keturunan Nabi Ibrahim as.
Sementara itu berbeda dengan jawaban Allah untuk ahli Bait Nabi Ibrahim, Allah berfirman dalam al-Qur'an sehubungan dengan ahli Bait Nabi Muhammad Saw :
"Sesungguhnya Allah bermaksud untuk menghilangkan dosa dari kamu wahai ahli Bait dan menyucikan kamu dengan sebenarnya."
(Qs. al-Ahzab 33:33)
Jadi sekali lagi, apabila memang benar Imam al-Mahdi itu berasal dari keturunan Nabi Muhammad Saw sebagaimana isi Hadist yang kita jumpai dalam kalangan ahli Bait, maka semuanya sama sekali tidak bertentangan dengan al-Qur'an dan pemikiran yang wajar (rasionalitas).
"Dan orang-orang yang beriman dan di-ikuti oleh anak-cucu mereka dalam keimanannya itu, Kami akan hubungkan anak-cucu mereka dengan mereka serta Kami tidak mengurangi sedikitpun dari amal mereka, tiap-tiap orang bergantung dengan apa yang ia telah usahakan."
(Qs. ath-Thur 52:21)
Dalam salah satu Hadist yang diriwayatkan oleh Bukhari ketika menafsirkan surah al-Ahzab, yang juga diriwayatkan oleh Muslim dengan riwayat Ka'ab bin 'Ujarah :
"Ketika turun ayat ke-56 dalam surah al-Ahzaab yang memerintahkan orang-orang beriman untuk bersholawat kepada Nabi, bertanyalah para sahabat kepada Rasulullah Saw: 'Ya Rasulullah, mengenai ucapan salam yang harus kami tujukan pada anda, kamu telah mengerti. Tapi bagaimanakah kami mengucapkan sholawat ?"; Maka jawab beliau mengajarkan kepada mereka: 'Katakanlah: 'Allahumma Sholli'ala Muhammad wa'ala Ali Muhammad (Ya Allah, limpahkanlah rahmat-Mu atas Muhammad dan keluarga Muhammad)."
Sholawat ini juga yang senantiasa dibaca oleh semua umat Islam dari jemaah manapun ia dalam setiap sholat mereka tidak perduli apa dan bagaimana cara pandang mereka terhadap generasi Rasulullah Saw.
"Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bersholawat atas Nabi; Wahai orang-orang yang beriman, bersholawatlah atasnya dan ucapkanlah salam dengan sebenarnya."
(Qs. al-Ahzab 33:56)
Kembali kepada paham Mahdihisme yang terdapat dalam jemaah Ahmadiyah dan jemaah Salamullah, keduanya menisbatkan al-Qur'an surah ash-Shaff ayat 6 untuk merujuk kepada pribadi Rasul yang dinubuatkan oleh Nabi 'Isa al-Masih pada diri Mirza Ghulam Ahmad dan Ahmad Mukti.
"Hai bani Israil ! Sesungguhnya aku, utusan Allah kepadamu, membenarkan Taurat yang sudah ada sebelumku, dan memberi khabar gembira tentang seorang Rasul sesudahku, bernama Ahmad ! Tapi ketika ia datang kepada mereka membawa keterangan, Mereka berkata, "Ini satu sihir yang nyata !". (QS. Ash Shaff 61:6)
Dengan berdasarkan nama "Ahmad" ini, kedua jemaah sepakat menolak untuk menisbatkannya kepada Rasulullah Saw yang menurut mereka bernama "Muhammad" bin Abdullah bukan "Ahmad" bin Abdullah.
Sampai disini, pernyataan keduanya masih dapat kita terima, namun apabila secara bijak kita membuka beberapa buah berita Hadist yang dinisbatkan dari Rasulullah Saw maka akan kita dapati pula keterangan yang menyatakan bahwa "Ahmad" adalah salah satu dari beberapa nama dan gelar yang dimiliki oleh Muhammad bin Abdullah, utusan Allah.
Kedua nama ini berasal dari akar kata Hamd, yang berarti puji.
Kata Ahmad artinya orang yang banyak memuji, sedangkan kata Muhammad artinya orang yang sangat terpuji.
Nama Muhammad menunjukkan sifat kebesaran, kemenangan dan kemuliaan, yakni yang lazim disebut sifat Jalali.
Sejarah telah mencatat secara jujur dengan tinta emas mengenai kebesaran dan keagungan Nabi Muhammad Saw dalam berbagai bidangnya, baik mereka yang beriman kepadanya ataupun orang-orang yang sebenarnya mengambil sikap permusuhan dengan kebenaran yang beliau bawa dari Allah.
Nama besarnya akan tetap menjadi yang paling masyur sepanjang jaman, keagungan sosok Nabi umat Islam ini melampaui kebesaran tokoh-tokoh yang paling berpengaruh selama-lamanya.
Sedangkan nama "Ahmad", lebih menunjukkan sifat keindahan, keelokan dan kehalusan budi, yakni jang lazim disebut sifat Jamali.
Allah menyukai hal-hal yang indah, dan Dia senantiasa mempergunakan kata-kata yang halus dan indah dalam setiap firman-Nya yang tercatat dalam al-Qur'an, dan istimewa kepada Nabi-Nya yang berfungsi selaku "Khatamannabi", Allah lebih sering memanggil beliau dengan nama "ya ayyuhannabi" (wahai Nabi) dan bukan "wahai Muhammad" sebagaimana yang kita jumpai dalam ayat-ayat al-Qur'an yang lain manakala Allah memanggil para Nabi sebelumnya.
Nabi Muhammad Saw sebagaimana yang sudah diungkapkan, adalah sosok manusia yang berkepribadian tinggi, penuh welas asih dan sabar terhadap semua orang, baik mereka itu keluarganya, para sahabatnya bahkan juga terhadap perlakuan kejam para musuh-musuhnya.
Untuk ini Allah berfirman dalam al-Qur'an :
"Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang Rasul (yaitu Muhammad) dari antara kamu, berat baginya penderitaanmu, sangat menginginkan kebaikan bagi kamu; amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mu'min."
(QS. al-Bara'ah 9:128)
"Adalah karena rahmat dari Allah, kamu (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap kasar lagi berhati keras, tentulah mereka menjauhkan diri dari lingkunganmu."
(Qs. Ali Imran 3:159)
Inilah gambaran sesungguhnya dari nama "Ahmad" dan "Muhammad" yang melekat pada diri putera Abdullah dan Aminah dari garis keturunan Bani Hasyim yang merupakan generasi kesekian dari Nabi Ibrahim melalui benih Nabi Ismail as.


"STUDI KRITIS PEMAHAMAN ISLAM"
Oleh ARMANSYAH

Sponsor link:

0 komentar:

Tafsir Kitab Ulangan

"YÁOHU UL thy ULHIM will raise up unto thee a Prophet from the midst of thee, of thy brethren, like unto me; unto him ye shall hearken." (Deuteronomy 18 :15)
Pada ayat diatas, Nabi Musa menyebutkan bahwa Allah akan membangkitkan SEORANG NABI kepada Bani Israil yang berasal dari saudara mereka yang mana Nabi tersebut akan memiliki karakteristik SAMA seperti halnya Nabi Musa.
Dalam beberapa perdiskusian yang pernah saya lakukan dengan kaum Ahli Kitab (Nasrani), mereka menyandarkan bahwa terhadap Yesus-lah nubuatan Nabi Musa ini ditujukan. Namun bila kita kaji lebih jauh, rasanya kesimpulan tersebut terlalu dini untuk dinisbatkan kepada Yesus.
Kalimat "brethren atau dari antara saudaramu" yang tercantum dalam kalimat Nabi Musa as pada ayat diatas, jelas dari tidak merefer pada kalangan Yahudi sendiri.
Mari kita analogikan ayat tersebut :
1. Arman X Saudaranya Arman (Adik atau kakak saya)
Disini saudara Arman bukanlah Arman itu sendiri, melainkan harus orang lain
2. Seorang Israel X Saudaranya Israel
Saudaranya Israel adalah bukan Israel itu sendiri tetapi Bani Ismail
Jadi ayat Ulangan 18:15 jo Ulangan 18:18 tersebut jika kita artikan secara harfiah akan memiliki makna :
"Seorang Nabi akan dibangkitkan lagi oleh Allah bagi kaum Bani Israil tetapi Nabi tersebut berasal dari saudara mereka, yaitu Bani Ismail, dimana Nabi dari Bani Ismail ini akan memiliki karakteristik dan keagungan sama seperti Musa yang berasal dari Bani Israil."
Saudara Bani Israel terkecuali Bani Ismail, tidak ada yang mengeluarkan doktrin keNabian, termasuklah didalamnya dari benih Ketura. Hanya Bani Ismail sajalah yang kita dapati Nabi dari antara saudara Bani Israi tersebut.
Islam menolak konsep bahwa Musa telah bertemu dengan Allah secara berhadapan muka, sebab Allah tidak dapat dilihat. Dan jika kita kembalikan pula hal ini pada Bible, kita pun akan mendapati keterangan yang serupa, Allah itu adalah dzat yang Maha halus yang tidak bisa dicapai dengan penglihatan. Dan perihal adanya nas terlihatnya Allah dalam beberapa ayat Bible yang justru menimbulkan suatu kontradiksi dalam ayat-ayat Bible sendiri.
Lihat Kejadian 17:22 ... apakah maksudnya Allah naik meninggalkan Abraham ?
Apakah anda menyetujui bahwa Allah bisa terlihat oleh Abraham sebagaimana pada Kejadian 17:1 ?
Jika jawabnya "Ya" maka berupa apakah Allah ini yang terlihat oleh Abraham pada kejadian ini ?
Ingat pada Kejadian 17:1 jelas disebut Allah terlihat kepada Abraham dan pada Kejadian 17:22 Tuhan naik meninggalkan Abraham yang menurut penafsiran saya yang awam ini adalah - maaf - seperti seorang pilot pesawat terbang yang tinggal landas meninggalkan bandara.
Lalu pada Kejadian 18:1 dinyatakan lagi Abraham kembali melihat Tuhan dekat pohon Mamre dan kali ini rupanya Tuhan datang bertiga dan disembah oleh Abraham pada Kejadian 18:2 sambil menyediakan dirinya untuk membasuh kaki 3 orang Tuhan ini yang rupanya kotor setelah menemui Abraham.
Kejadian ini rupanya seringkali terjadi.
Banyak ayat dalam Bible yang menyatakan bahwa Tuhan dapat dilihat oleh manusia. Mereka yang pernah melihat Tuhan antara lain: Ishak (Kejadian 26:2), Yakub (Kejadian 35:9), Musa, Harun, Nadab, Abihu dan 70 orang Israel (keluaran 24:9), bangsa Israel (Bilangan 14:14) dan (Yeremia 31:3), Yesaya (6:1)
Bahkan Yakub telah berhasil mengalahkan Tuhan dalam pergumulannya dan menang (Kejadian 32:28) dan juga penamaan tempat Pniel pada Kejadian 32:31 yang dinyatakan bahwa Yakub melihat Allah berhadapan muka serta Musa pada Ulangan 34:10.
"And he said, Thy name shall be called no more Jacob, but Israel: for as a prince hast thou power with Elohim and with men, and hast prevailed." (Genesis 32:28)
"And Jacob called the name of the place Peniel: for I have seen Elohim face to face, and my life is preserved."(Genesis 32:30)
Padahal Injil Yohanes/Yahya/Johnpada 1:18 menyebutkan bahwa Allah belum pernah dilihat oleh seorangpun juga melainkan hanya dinyatakan melalui Jesus selaku utusan-Nya sebagaimana yang dinyatakan oleh Jesus sendiri dalam Injil Yohanes 17:8 dan Samuel 7:22
"Maka kata Pilipus kepadanya: 'Ya Tuan, tunjukkanlah Bapa itu kepada kami, maka padalah (dengan begitu akan cukuplah) itu bagi kami. Kata Jesus kepadanya: 'Hai Pilipus, sekian lamanya aku bersama-sama dengan kamu, dan tiadakah engkau kenal aku ? Siapa yang sudah melihat aku, ia sudah melihat Bapa. Bagaimanakah katamu : 'Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami ?'" (Johanes 14:8-9)
Jadi akhirnya Yesus sendiri menunjukkan kepada Pilipus, bagaimana membuktikan kehadiran Tuhan kepada murid-muridnya; bahwa hal itu tidak mungkin.
Adalah salah apabila umat Kristen menangkap kesan bahwa Jesus sudah menyatakan dirinya sama dengan Allah (alias Bapa). Bagaimana mungkin menafsirkan yang demikian sementara Jesus sendiri menolak anggapan tersebut dalam dua ayat dibawah ini:
John 13:16 - Douay
"Amen, amen I say to you: The servant is not greater than his lord;
Neither is the apostle greater than he that sent him."
John 14:28 - Douay
"Because I go to the Father: for
the Father is greater than I
."
Jelas dari kalimat diatas, bahwa Allah tidaklah sama dengan Jesus, Allah jauh lebih berkuasa, lebih mulia daripada Jesus yang hanya sebagai hamba dari Allah itu sendiri, sebagai utusan Allah kepada Bani Israil.
Kita harus mempercayai eksistensi Tuhan hanya dengan memperhatikan makhlukNya, matahari, bulan, seluruh makhluk dan termasuklah Jesus sendiri yang merupakan ciptaan Tuhan.
Jesus juga menyatakan didalam Johanes 4:24 Elohim is a Spirit (Tuhan adalah Roh ...), Ye have neither heard his voice at any time, nor seen his shape. (Kamu belum pernah mendengar suaraNya atau melihat rupaNya.)" - Johanes 5:37
Bagaimana anda dapat melihat suatu roh ?
Yang dapat mereka lihat adalah Yesus, bukan Tuhan.
Paulus didalam 1 Timotius 6:16 mengatakan hom no man hath seen, nor can see (...yang tiada pernah dilihat atau dapat dilihat orang...)' Hal ini juga terjadi pada Keluaran 33:20 And he said, Thou canst not see my face: for there shall no man see me, and live.
Dalam AlQur'an sendiri dinyatakan :
"Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala yang kelihatan dan Dialah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui."(QS. al-An'aam 6:103)
Bagaimana menurut pendapat anda ini ?
Saya rasa anda tidak akan lari dari kebenaran, bukan ?
Lalu sekarang kita kembalikan pembahasan kita pada diri Nabi Musa yang dikatakan telah berhadapan dengan Tuhan secara muka bukan dalam arti yang sesungguhnya sebagaimana saya umpamanya berhadapan dengan anda disuatu ruangan lobi sebuah hotel.
Melainkan bahwa Allah telah berkenan untuk menyampaikan langsung wahyu-Nya kepada Nabi Musa as tanpa perantaraan malaikat-Nya, dan ini pun dialami oleh Nabi Muhammad Saw ketika mendapatkan kewajiban sholat dalam perjalanan Mi'raj beliau ke Sidratul Muntaha.
Sekarang, untuk menghormati pemahaman Kristen bahwa Nabi yang dimaksud dari "Brethern of Israel" itu adalah Jesus, mari sama-sama kita lihat dan pelajari secara objektif.
Dalam hal apa persamaan Jesus terhadap Musa ?
Jika ditilik dari garis keturunan, adalah benar Jesus serupa dengan Musa, yaitu sama-sama orang Yahudi. Dan ditilik dari status mereka-pun adalah sama, yaitu Musa adalah seorang Nabi dan Jesus-pun diakui sebagai Nabi.
Penyandaran kedua hal persamaan diatas, rasanya tidak memiliki pengaruh apapun dalam hal pemenuhan nubuat dari Musa, sebab kriteria ini dapat dipenuhi oleh setiap tokoh setelah Musa seperti Sulaiman, Yesaya, Ezekiel, Daniel, Hosea, Yoel, Malachi, Yohanes pembaptis dan lain sebagainya, karena secara garis keturunan, mereka pun orang Yahudi yang sekaligus juga berstatuskan Nabi, lalu kenapa tidak menetapkan kepada salah seorang Nabi tersebut dan kenapa mesti kepada Jesus ?
Dari apa yang bisa saya simpulkan, terlebih dahulu disertai dengan permintaan maaf kepada anda dan umat Nasrani lainnya, saya katakan bahwa Jesus tidak sama seperti Musa.
Bahwa Jesus dalam kalangan Nasrani sekarang ini dianggap sebagai Tuhan sementara Musa bukanlah Tuhan.
Jesus telah dianggap wafat untuk menebus dosa-dosa manusia, tetapi Musa tidak wafat untuk hal tersebut.
Jesus bangkit setelah 3 hari wafatnya dikayu salib namun Musa tidak bangkit dari kematian setelah 3 hari dari wafatnya
Oleh karena itu : Jesus tidaklah seperti Musa.
Namun, pada kesempatan ini, dengan hormat, izinkan saya membuat daftar persamaan serta perbedaan antara Nabi Musa - Nabi 'Isa - Nabi Muhammad Saw.
Bahwa :
Musa memiliki seorang Ayah dan Ibu,
Muhammad Saw juga memiliki seorang Ayah dan Ibu
Jesus hanya memiliki Ibu dan tidak memiliki Ayah, sementara Yusuf Arimathaea hanyalah ayah tirinya
Musa dan Muhammad lahir secara normal dan alamiah, yaitu melalui percampuran phisik antara seorang pria dan seorang wanita, sementara Jesus lahir tidak seperti itu.
Musa dan Muhammad menikah dan mempunyai anak, sementara Jesus menurut sejarah Bible tidak menikah dan tidak beranak.
Musa dan Muhammad diterima sebagai seorang Nabi dan Rasul oleh kaumnya dalam kehidupan mereka bahkan hingga jaman sekarang ini sementara Jesus sendiri ditolak oleh kaumnya (Yahudi) sejak dari awal beliau diutus Allah sampai pada menjelang abad millenium kita sekarang, bahkan Jesus sendiri mengatakan bahwa dia harus pergi karena umatnya tidak sanggup mendengar perintahnya.
Musa dan Muhammad selain sebagai Nabi sekaligus juga berfungsi selaku Raja/Pemimpin yang menetapkan aturan hukum kepada masyarakatnya, tidak menjadi masalah apakah mereka mengenakan mahkota dan pakaian kebesaran kerajaan ataupun tidak, namun yang jelas, keduanya diakui sebagai pimpinan oleh masing-masing umatnya pada waktu keduanya masih hidup, sementara Jesus, kerajaannya bukanlah berasal dari dunia melainkan dia hanyalah sebagai seorang pemimpin spiritual
Musa berhijrah kebumi Median, Muhammad berhijrah kebumi Madinah, Jesus tidak hijrah kemanapun didalam menyebarkan misinya.
Musa dan Muhammad menetapkan hukum-hukum baru, sementara Jesus mengikuti hukum Musa
Musa dan Muhammad wafat secara wajar, Jesus wafat disalib
Musa dan Muhammad dikuburkan didalam bumi sementara Jesus dalam pandagangan Nasrani tidak.
Dengan demikian dari persamaan antara Musa terhadap Jesus atau Muhammad yang dijelaskan diatas, maka Muhammad-lah yang lebih condong untuk sama seperti Musa seperti nubuat Ulangan 18:15.
Selanjutnya, kita juga mengetahui bahwa Nabi Ibrahim alias Abraham memiliki dua orang istri, Sarah dan Hagar dimana keduanya melahirkan Ishaq dan Ismail.Dan jika Ishak serta Ismail adalah anak dari ayah yang sama, maka mereka adalah kakak beradik, karenanya anak dari salah seorang mereka adalah saudara dari anak yang lain.
Keturunan Ishak adalah bangsa Yahudi dan keturunan Ismail adalah bangsa Arab, jadi jika disebutkan pada Ulangan 18:15 bahwa sang Nabi akan muncul of thy brethren, maka saudara dari Bani Israil tentu saja adalah Bani Ismail, yaitu bangsa Arab, garis keturunan yang menurunkan Nabi Muhammad Saw.
Allah sendiri menyatakan kepada Bani Israil pada Ulangan 32:21
"Mereka membangkitkan cemburu-Ku dengan yang bukan Allah, mereka menimbulkan murka-Ku dengan berhala mereka. Sebab itu Aku akan membangkitkan cemburu mereka dengan yang bukan kaumnya dan akan menerbitkan amarahnya dengan satu kaum yang hina."
Isa alias Jesus didalam Matius 21:43 juga mengukuhkan pernyataan Allah ini :
"Aku berkata kepadamu, bahwa kerajaan Allah akan diambil daripadamu dan akan diberikan kepada suatu bangsa yang akan menghasilkan buah kerajaan itu."
Jelas sekali ayat-ayat diatas menunjukkan bahwa Allah akan :
1. Mengambil kerajaan-Nya dari Bani Israel
Disini kita mesti memahami bahwa yang dimaksud dengan kerajaan Allah dapat berupa rahmat, kemuliaan, petunjuk, nikmat kenabian
2. Kerajaan Allah tersebut akan dipindahkan kepada suatu bangsa lain yang bukan berasal dari kaum Bani Israel yang telah dipandang hina oleh mereka sebelumnya yang justru dari kaum tersebut akan menghasilkan buah atau karya yang diinginkan oleh Allah dan menimbulkan kebencian yang mendalam dari Bani Israel.
Kalimat yang diutarakan oleh Jesus pada Matius 21:43 tersebut diucapkan di Bait Allah didalam negri Jerusalem dihadapan seluruh Imam dan tua-tua penganut Taurat dinegri itu (Matius 21:23).
Dan Taurat itu adalah kitab Musa kepada Bani Israil, jadi apabila para Imam itu adalah penganut Taurat bahkan guru Taurat, terlepas dari apakah mereka benar-benar seorang yang patuh atau penyeleweng dari hukum Taurat, namun tetap saja mereka adalah bagian dari Bani Israil, dan jika kalimat ini diucapkan oleh Jesus terhadap Imam mereka (Bani Israil), maka secara otomatis seruan Jesus ini tertuju kepada keseluruhan kaumnya, Bani Israil.
Ingatlah kembali akan apa yang diseru oleh Allah didalam Ulangan 32:21 diatas :
"Mereka membangkitkan cemburu-Ku dengan yang bukan Allah, mereka menimbulkan murka-Ku dengan berhala mereka. Sebab itu Aku akan membangkitkan cemburu mereka dengan yang bukan kaumnya dan akan menerbitkan amarahnya dengan satu kaum yang hina."
Ayat diatas ini sangat berkaitan erat dengan apa yang disabdakan oleh Jesus sebelumnya, bahwa Allah telah cemburu (murka) terhadap tindakan Bani Israil yang telah menyekutukan-Nya dengan Tuhan-tuhan lain, untuk itu, Allah juga akan membangkitkan marah dan kecemburuan Bani Israil terhadap kemuliaan yang akan dipindahkan Allah diluar kaum Bani Israil, yaitu suatu kaum yang dianggap mereka hina, yaitu Bani Ismail.
Dan inilah terjadinya disaat Allah mengutus Nabi Muhammad Saw dari Bani Ismail sebagai awal perpindahan kerajaan Allah dari Bani Israil menuju kaum selainnya.
Jadi semakin jelas bahwa kebangkitan Muhammad Saw sebagai salah seorang Nabi dari keturunan Ismail yang telah diberkati Allah sebelumnya, adalah dikarenakan pembangkangan dari keturunan Ishak terhadap Allah sehingga menimbulkan murka Allah dan mengalihkannya kepada kaum Ismail yang disebutkan pada Ulangan 32:21 sebagai kaum yang hina, sebab bukankah Ismail dianggap tidak layak untuk bersama dengan Ishak pada kisah pengusiran Hagar dan Ismail yang dilakukan oleh Sarah pada Kejadian 21:10.
Dan kepada benih Ismail inilah Allah memindahkan kerajaan-Nya dari Bani Israil dan apa yang disebut bahwa akan menghasilkan buah Allah itu menjadi kenyataan ketika masa pengutusan Muhammad Saw yang menjadikannya suatu bangsa yang besar, yang dengan gagah berani menyatakan firman-firman Allah dan mengembalikan citra tauhid sejati, membersihkan segala bentuk keberhalaan dan mendirikan kerajaan Allah diatas dunia ini.
Lalu pengukuhan Isa pada Matius 21:43 akan membuktikan firman Allah terhadap kebesaran Ismail dan keturunannya pada Kejadian 17:20 dan Kejadian 21:18 yang membuktikan bahwa Bani Ismail melalui Muhammad Saw akan menjadi suatu bangsa yang besar dan menghasilkan banyak orang yang beriman kepada Allah secara penuh dan totalitas sebagai yang dimaksud dengan buah kerajaan itu (yaitu kerajaan Allah).
Pembangkangan Bani Israil ini juga disinyalir oleh Allah dalam AlQur'an secara jelas :
"Sesungguhnya Kami telah mengambil perjanjian dari Bani Israil, dan telah Kami utus kepada mereka beberapa orang Rasul. Tetapi setiap datang seorang Rasul kepada mereka dengan membawa apa yang tidak diingini oleh hawa nafsu mereka, mereka dustakan sebagian dan mereka bunuh sebagian." (QS. Al-Ma'idah 5:70)
Lebih jauh kita melihat pada Ulangan 18:17-22 sebagai sambungan dari Ulangan 18:15 :
"Lalu berkatalah TUHAN kepadaku: Apa yang dikatakan mereka itu baik; seorang nabi akan Kubangkitkan bagi mereka dari antara saudara mereka, seperti engkau ini; Aku akan menaruh firman-Ku dalam mulutnya, dan ia akan mengatakan kepada mereka segala yang Kuperintahkan kepadanya.
Orang yang tidak mendengarkan segala firman-Ku yang akan diucapkan nabi itu demi nama-Ku, dari padanya akan Kutuntut pertanggungjawaban. Tetapi seorang Nabi, yang terlalu berani untuk mengucapkan demi nama-Ku perkataan yang tidak Kuperintahkan untuk dikatakan olehnya, atau yang berkata demi nama allah lain, nabi itu harus mati.
Jika sekiranya kamu berkata dalam hatimu: Bagaimanakah kami mengetahui perkataan yang tidak difirmankan TUHAN? -- apabila seorang nabi berkata demi nama TUHAN dan perkataannya itu tidak terjadi dan tidak sampai, maka itulah perkataan yang tidak difirmankan TUHAN; dengan terlalu berani nabi itu telah mengatakannya, maka janganlah gentar kepadanya."
Ulangan 18:19 diatas memperjelas lagi tentang sosok Nabi yang dinubuatkan itu.....Nabi itu datang bukan dari kalangan Bani Israil tetapi dari antara saudara mereka, yaitu bani Ismail ....seperti Musa dimana Allah akan menaruh "firman-Nya" dimulut Nabi tersebut dan dia akan mengatakan kepada mereka segala yang diperintahkan Allah kepadanya.
Jesus adalah Firman Tuhan yang menjelma dalam tubuh Jesus itu sendiri .. demikian keyakinan orang-orang Kristen. Tetapi orang yang dijanjikan itu adalah "menyimpan Firman Tuhan itu" dalam mulutnya.... berarti Firman itu diucapkannya dengan mulutnya... dan penyampaian Firman itu adalah dengan "mengatakannya".
Betapa mungkin nubuatan itu tertuju kepada Jesus yang merupakan penjelmaan Firman Tuhan itu? Kepada siapa lagi nubuatan itu tertuju kalau tidak kepada Muhammad yang senantiasa menyampaikan firman Allah lewat ucapannya Bismillahirahmanirahim.... dengan nama Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang ?
Selain itu, mari kita lihat apa kata al-Qur'an terhadap pribadi Muhammad Saw :
"Dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)."(QS. An Najm 3-4)
Nabi Musa adalah Nabi yang terbesar dikalangan Bani Israel....Semua Nabi-nabi Bani Israil sesudah Musa berhukum kepada Taurat yang diturunkan kepada beliau... dan Taurat adalah Kitab syariat yang paling sempurna untuk Bani Israel, bahkan Jesus sendiri mengatakan bahwa kedatangannya sama sekali tidak hendak untuk merombak hukum Taurat atau juga kitab para Nabi sebelumnya, sebab tercatat hukum Taurat tidak akan dibatalkan hingga langit dan bumi hancur sampai seluruhnya terjadi, yaitu datangnya sang Nabi terakhir, Muhammad Saw.
Nabi Muhammad Saw adalah Nabi yang terakhir dan terbesar untuk semua manusia Bani Adam ini dan risalahnya meliputi semua kaum dan manusia dimuka bumi ini....termasuk Bani Israel.
Dengan kedatangan Nabi Muhammad Saw selesailah misi Nabi Musa yang kedatangannya hanya terbatas untuk Bani Israel saja. Semua pengikut Taurat dan Injil itu harus menerima kerasulan Muhammad Saw sebagaimana isi terakhir dari ayat Matius 5:18 ..."sampai seluruhnya terjadi", yaitu sampai masa Nabi yang dinubuatkan oleh Musa dalam Tauratnya itu tiba, maka Taurat tidak lagi wajib untuk di-ikuti dan berganti dengan kitab selanjutnya.
Selain itu, sebagaimana isi Ulangan 18:22 :
"Apabila seorang nabi berkata demi nama TUHAN dan perkataannya itu tidak terjadi dan tidak sampai, maka itulah perkataan yang tidak difirmankan TUHAN; dengan terlalu berani nabi itu telah mengatakannya, maka janganlah gentar kepadanya."
Nabi Muhammad Saw berbicara menyampaikan firman Allah kepada seluruh umat manusia tanpa dibatasi oleh golongan maupun bangsa. Semasa hidupnya, beliau Saw menyerukan Islam kepada Heraklius, penguasa Persia, Roma, Najasyi raja Ethiopia, Muqauqis (gubernur Mesir) dan sebagainya.
Dikala Nabi Muhammad Saw melakukan hijrah kekota Yatsrib (Madinah - sekarang), kala itu kota ini masih dihuni oleh berbagai kelompok dari berbagai kaum dan agama.
Diantara mereka ada yang sudah menganut ajaran Islam yang dibawa oleh Muhammad (yaitu kaum Anshar), ada yang masih memiliki budaya pagan atau penyembah berhala yang umumnya berasal dari suku Aus dan Khazraj, ada pula kelompok penduduk Yahudi yang terdiri dari Banu Qainuqa, Bani Quraiza, Banu'n Nadzir serta kelompok Yahudi Khaibar diutara Madinah. Kepada mereka ini pula Nabi Muhammad Saw telah menyerukan ajaran-ajaran Allah.
Lebih jauh, ayat-ayat al-Qur'an sendiri banyak sekali menyeru kepada Bani Israil agar mereka mendengarkan wahyu yang diturunkan oleh Allah kepada Nabi Muhammad Saw dan menegur kelakuan mereka yang buruk, baik terhadap ajaran Allah, terhadap para Nabi dan pengikutnya maupun kepada para masyarakat lainnya.
Apabila ada pihak yang masih berusaha menyandarkan akan petunjuk Yohanes dalam pasal ke-5 nya:
45 "Do not think that I will accuse you before the Father; the one who accuses you is Moses, in whom you have set your hope.
46 "For if you believed Moses, you would believe Me; for he wrote of Me.
47 "But if you do not believe his writings, how will you believe My words?"
Sekarang : Apa yang sudah pernah ditulis oleh Musa ?
Kita semua sudah tahu bahwa Musa bukan penulis kitabnya sendiri.
Jadi kalimat ini masih perlu kita selidiki lebih jauh, seberapa benar kalimat yang diungkapkan oleh Johanes ini.
Mungkin sebagai bahan referensi, bisa dibaca pula dalam alamat :
The Jews and the Mosaic Law ; Who Wrote the Pentateuch?
http://www.jewish-history.com/mosaic/chapter2.htm
The Torah in Modern Scholarship:
http://www.kencollins.com/bible-p2.htm
Dan sekarang, sebagai kunci akhir dari penjelasan ayat Ulangan 18 sebelumnya diatas, mari kita lihat Ulangan 34:10
Deuteronomy 34:10
"And there arose no more a prophet in Israel like unto Moses, whom the Lord knew face to face."
Jelas sekali disana dikatakan bahwa TIDAK AKAN ADA LAGI NABI SEPERTI MUSA YANG BANGKIT DARI ISRAIL.
Untuk itu, mengacu bahwa Jesus merupakan Nabi yang bangkit dari antara saudara Bani Israil yang dimaksud oleh Musa dalam kitab Ulangan sama sekali tidak valid sebab Nabi yang seperti Musa hanya akan bangkit dari luar Bani Israil, yaitu Bani Ismail dan dia adalah Nabi Muhammad Saw al-Amin sang Paraclete dan The Holy Spirit.


"STUDI KRITIS PEMAHAMAN ISLAM"
Oleh ARMANSYAH

Sponsor link:

0 komentar:

Kisah Keluarga Nabi Ibrahim

Pengantar kepada Perjanjian Terakhir
Dari Surah Ash Shaffat (37) ayat 99 sampai dengan ayat 113:
 
99 Dan Ibrahim berkata: Sesungguhnya aku pergi menghadap Tuhanku dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku. 100. Wahai Tuhanku, anugerahilah aku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh;
101. Maka Kami gembirakan dia dengan (kelahiran) seorang anak yang amat sabar.
102. Maka tatkala anak itu telah sampai pada usia dapat membantu bapaknya, berkatalah Ibrahim : 'Wahai anakku sayang, sesungguhnya aku melihat didalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Untuk itu bagaimanakah pendapatmu ?' Anaknya menjawab: 'Hai Bapakku, laksanakanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu. InsyaAllah engkau akan mendapati aku termasuk golongan orang-orang yang sabar'.
103. Maka tatkala keduanya (bapak dan anak) telah menyerahkan diri (kepada Allah) dan Ibrahim telah merebahkan anaknya diatas pipinya (ditempat penyembelihan dan hampir menyembelihnya).
104. Maka Kami panggillah dia, 'Wahai Ibrahim' (Janganlah engkau lanjutkan perbuatan itu.)
105. Sungguh, engkau telah membenarkan (melaksanakan perintahKu dalam) mimpi itu. Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik."
106. "Sesungguhnya (perintah penyembelihan) ini benar-benar suatu ujian yang nyata,
107. Dan Kami tebus sembelihan itu dengan sembelihan yang agung,
108. dan Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian) dikalangan orang-orang yang datang kemudian.
109. Yaitu, Kesejahteraan yang senantiasa dilimpahkan atas Ibrahim."
110. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik,
111. Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman.
112. Dan Kami beri dia kabar gembira dengan (kelahiran) Ishaq, seorang Nabi yang termasuk orang-orang yang saleh,
113. Dan Kami limpahkan keberkatan atasnya (Ismail) dan atas Ishaq. Dan diantara anak cucu mereka berdua, ada yang berbuat baik dan ada (pula) yang zhalim terhadap dirinya sendiri dengan nyata."
Ibrahim as adalah seorang Nabi yang mumpuni dan penuh berkah dari Allah, dimana beliau sejak kecilnya didalam pencarian jati diri kebenaran sosok Tuhannya, telah mempergunakan kekuatan akal pikirannya serta hati nuraninya, dimulai dari ketidak puasannya terhadap berhala-berhala yang dibuat oleh bapaknya sendiri dan dijadikan sesembahan kaumnya masa itu (Lihat dalam Qs. 37:83-93), juga ketidak puasannya terhadap hal-hal yang semula dianggapnya Tuhan namun kemudian dinisbikannya sendiri karena bertentangan dengan akal pikiran serta hati nurani (Lihat kisah Nabi Ibrahim dalam pencarian Tuhan pada Qs. 6:75-79)
Keberimanan Ibrahim kepada Allah yang Esa yang tidak terbagi menjadi potongan-potongan kecil kemakhlukan telah membuatnya berlepas diri terhadap kaumnya dan bahkan juga bapaknya (Qs. 60:4 dan Qs. 19:41-48) yang sampai pada puncaknya penghancuran seluruh berhala sesembahan mereka (Qs. 21:57-58) sehingga dikorbankanlah Ibrahim kedalam satu hukuman pembakaran yang berkat rahmat dari Allah, keselamatan dilimpahkan kepada Nabi agung ini dan api tidak mampu menembus kulitnya yang mulia itu. (QS. 21:61-69)
Selanjutnya keberimanan yang tulus dan penuh tanpa syarat setelah beliau mendapatkan kebenaran tersebut dengan Allah, Ibrahim kembali diuji oleh Allah, setelah sekian lamanya beliau berumah tangga dengan Sarah tidak ada tanda-tanda istrinya ini akan menjadi hamil, sehingga diluar statusnya selaku seorang Nabi, Ibrahim tetaplah seorang manusia yang memiliki keinginan untuk mempunyai keturunan sebagai suatu fitrah yang ada pada diri setiap laki-laki dan suami kepada masa depan penerusnya.
Ibrahim berdoa kepada Allah agar beliau dianugerahi seorang anak yang saleh (Qs. 37:99-100), dan pada bagian ayat berikutnya dijelaskan bahwa permintaan Ibrahim ini dikabulkan oleh Allah dengan diberinya seorang putra yang telah lama dinanti-nantikannya melalui istri keduanya Hajar, Bible dalam Kitab Kejadian 16:11 telah pula menegaskan dan menguatkan kisah yang dipaparkan oleh Qur'an ini.
"And again: Behold, said he, thou art with child, and thou shalt bring forth a son: and thou shalt call his name Ismael, because the Lord hath heard thy affliction." (Genesis 16:11 from Douay)
Sarah sebagai istri pertama dari Ibrahim telah memberikan persetujuan kepada suaminya untuk menikahi Hajar (Kitab Kejadian 16:2-3), dari Hajar ini lahirlah putra pertama Ibrahim yang bernama Ismail disaat usia Ibrahim kala itu 86 tahun (Kitab Kejadian 16:16).
"And Sarai said unto Abram, Behold now, Lord hath restrained me from bearing: I pray thee, go in unto my maid; it may be that I may obtain children by her. And Abram hearkened to the voice of Sarai. And Sarai Abram's wife took Hagar her maid the Egyptian, after Abram had dwelt ten years in the land of Canaan, and GAVE HER TO HER HUSBAND ABRAM TO BE HIS WIFE."(Genesis 16:2-3 from "The Restored Name King James Version of the Scriptures")
"And Abram was fourscore and six years old, when Hagar bare Ishmael to Abram."(Genesis 16:16 from "The Restored Name King James Version of the Scriptures")
Kisah ini bersesuaian dengan al-Qur'an pada surah 37:101, dan Bible pada kitab Kejadian 21:5 menceritakan bahwa Ibrahim juga akhirnya mendapatkan keturunan dari Sarah, yaitu Ishak, dimana pada kala itu usia Ibrahim sudah mencapai 100 tahun.
Jadi beda antara usia Ismail dan Ishak adalah 14 tahun.
Suatu perbedaan usia yang cukup jauh.
Pada ayat al-Qur'an berikutnya, yaitu surah 37:102, disebutkan bahwa tatkala usia anak yang dilahirkan pertama tersebut, dalam hal ini adalah Ismail sudah mencapai usia yang cukup untuk mengerti, maka Allah mengadakan ujian bagi Ibrahim antara kecintaannya terhadap Allah dan kecintaannya terhadap anak yang selama ini sudah dia nanti-nantikan.
Kisah ini jika kita kembalikan pada Bible, sangat bersesuaian, dimana pada usia Ismail yang sudah lebih dari 10 tahun itu, beliau sudah cukup mengerti untuk berpikir dan tengah meranjak menuju kepada fase kekedewasan.
Ibrahim yang mendapatkan perintah dari Allah itu, melakukan dialog tukar pikiran dengan putranya mengenai pengorbanan yang diminta oleh Allah terhadap diri anaknya ini. Dan kisah yang ini sama sekali bertentangan dengan kisah Bible yang menyebutkan Ibrahim telah membohongi putranya.
"He said to him: Take thy only begotten son Isaac, whom thou lovest, and go into the land of vision: and there thou shalt offer him for a holocaust upon one of the mountains which I will show thee."(Genesis 22:2 from Douay)
Dari sini kita lihat sudah, bahwa Kitab Kejadian 22:2 sudah mengalami distorsi dengan penyebutan anak tunggal itu adalah Ishak (Isaac).
Pada Kejadian 16:16 diterangkan pada waktu Hagar memperanakkan Ismail bagi Abram, ketika itu umur Ibrahim 86 tahun. Pada kejadian 21:5 disebutkan pada waktu Ishak lahir maka umur Ibrahim 100 tahun. Berdasarkan kedua ayat itu, maka anak Ibrahim yang lahir lebih dahulu ialah Ismail; Jika Kejadian 22:2 menerangkan bahwa firman Tuhan kepada Ibrahim untuk mengorbankan "anak tunggal", jelas pada waktu itu anak Ibrahim baru satu orang.
Adapun anak yang baru seorang ini sudah tentu anak yang lahir pertama atau yang lahir lebih dahulu. Dan anak Ibrahim yang lahir pertama ini ialah Ismail. Jadi Kejadian 22:2 yang menyebutkan "anak tunggal" itu Ishak, jelas merupakan sisipan atau penggantian yang dilakukan oleh pihak-pihak tertentu.
Apabila pada Kejadian 16:16 dan Kejadian 21:5 anak Ibrahim pada waktu itu sudah dua orang, yaitu Ismail dan Ishak ... mengapa pada Kejadian 22:2 disebutkan "anak tunggal" ?
Yang berarti bahwa anak Ibrahim baru satu orang, lalu kemana anak yang satunya lagi ? Padahal kedua anak tersebut masih sama-sama hidup, sehingga pada waktu Sarah (ibu Ishaq) wafat, kedua anak Ibrahim itu, yakni Ismail dan Ishaq sama-sama hadir mengurus jenasah Sarah.
Jadi seharusnya ayat yang menerangkan kelahiran Ishaq itu letaknya sesudah ayat pengorbanan, sehingga setelah ayat pengorbanan lalu diikuti oleh ayat kelahiran Ishak. Inilah yang disebut dengan "tahrif" oleh al-Qur'an, yaitu mengubah letak ayat dari tempatnya yang asli ketempat lain sebagaimana yang disitir oleh Surah An Nisa' ayat 46 :
"Diantara orang-orang Yahudi itu, mereka mengubah perkataan dari tempatnya ..." (Qs. an-Nisa' 4:46)
Dengan begitu semakin jelas saja bahwa Bible mengandung tahrif (pengubahan, penambahan, pengurangan dsb), dan jelas pula bahwa kitab yang sudah diubah-ubah itu tidak dapat dikatakan otentik dari Tuhan melainkan merupakan kitab yang terdistorsi oleh ulah tangan-tangan manusia.
Setelah ternyata Ibrahim lebih mengutamakan kecintaan dan kepatuhannya kepada Allah, maka Allah melimpahkan rahmat-Nya yang sangat besar kepada Ibrahim juga Allah telah meluluskan doa Ibrahim sebelumnya agar memperoleh anak yang saleh, yaitu putra tunggalnya, Ismail.
Ismail ini juga mengikuti jejak langkah bapaknya selaku manusia yang menyerahkan diri kepada Allah secara penuh tanpa syarat yang kelak akan menjadi salah seorang penerus kenabian Ibrahim sebagaimana dinyatakan didalam kitab suci AlQur'an pada Qs. 19:54, Qs. 4:163, Qs. 6:86, Qs. 21:85, Qs. 38:48 dan bagi Ismail sendiri juga didalam Bible pun dinyatakan bahwa Allah telah mengabulkan permintaan Ibrahim akan hal diri Ismail dan bahkan dijadikan Allah keturunan Ismail ini sebagai suatu bangsa yang besar (Lihat Kejadian 17:20, Kejadian 21:13 dan Kejadian 21:18 => Secara panjang lebar pembahasannya silahkan baca artikel : Tafsir Kitab Kejadian).
Setelah kisah pengorbanan putra tunggalnya kala itu tersebut, Ibrahim kembali digirangkan oleh Allah dengan mendapatkan seorang putra dari Sarah dimana waktu itu, baik menurut al-Qur'an sendiri maupun Bible, sebelumnya Sarah sempat merasakan pesimis mengingat usianya yang sudah lanjut, sementara Ibrahim sendiri sudah memiliki putra dari Hajar 14 tahun sebelumnya, dikala usia Ibrahim 86 tahun.
al-Qur'an Surah Ibrahim (14) ayat ke-39 melukiskan betapa Ibrahim merasa bersyukur sekali dengan dua putranya ini (yaitu Ismail dan Ishak) sebagai suatu karunia baginya yang sudah berusia lanjut.
Pengusiran Ismail dan Ibunya, Hajar yang dilakukan oleh Sarah sebagaimana yang dimuat didalam Bible terjadi pada waktu Ishak disapihkan karena ketakutan Sarah akan ikut terjatuhnya warisan ketangan Ismail yang juga merupakan putra dari Ibrahim (Lihat Kejadian 21:8-10).
"And the child grew and was weaned: and Abraham made a great feast on the day of his weaning. And when Sara had seen the son of Agar the Egyptian playing with Isaac her son, she said to Abraham: Cast out this bondwoman, and her son: for the son of the bondwoman shall not be heir with my son Isaac." (Genesis 21:8-10 From Douay)
Hal ini sebenarnya bertentangan dengan apa yang dikatakan oleh Bible dalam ayat lainnya yaitu Ulangan 21:15-17.
"And the water was spent in the bottle, and she cast the child under one of the shrubs. And she went, and sat her down over against him a good way off, as it were a bowshot: for she said, Let me not see the death of the child. And she sat over against him, and lift up her voice, and wept. And Elohim heard the voice of the lad; and the angel of Elohim called Hagar out of heaven, and said unto her, What aileth thee, Hagar? fear not; for Elohim hath heard the voice of the lad where he is."(Genesis 21:15-17 from "The Restored Name King James Version of the Scriptures")
Kenapa bertentangan ?
Ishak ketika disapih berusia sekitar 2 tahun, sementara Ismail 16 tahun dan saat terjadi pengusiran atas Ismail dan ibunya ini telah terjadi konflik baru dalam ayat-ayat Bible, Kejadian 21:8-10 bertentangan dengan Kejadian 21:14-21.
Dimana dalam ayat itu digambarkan seolah-olah Ismail masih berupa seorang bayi yang digendong dibahu ibunya, dan disebut dengan istilah budak, kemudian Ismail yang menurut Bible sendiri saat itu sudah berusia 16 tahun yang notabene sudah cukup dewasa kembali digambarkan bagai anak kecil yang mesti dibaringkan dibawah pokok serumpun (Kejadian 21:15) lalu diperintahkan untuk diangkat, digendong (Kejadian 21:18)
Masak iya sih Hagar yg seorang perempuan harus menggendong seorang anak laki-laki "tua" yang berusia 16 tahun ?
Kemudian disambung pada Kejadian 21:20 seolah Ismail masih sangat belia sekali sehingga dikatakan "...maka disertai Allah akan budak itu sehingga besarlah dia, lalu ia pun duduklah dalam padang belantara dan menjadi seorang pemanah".
Jadi dari sini saja sudah kelihatan telah terjadi kerusakan dan manipulasi sejarah dan fakta yang ada pada ayat-ayat Bible.
Ada sekelompok kaum Nasrani membantah kalimat "untuk diangkat, digendong ... " yang termuat didalam Bible adalah dalam bentuk kiasan, jadi disana jangan diartikan secara harfiah, karena maksud yang ada pada ayat itu bahwa nasib hidup dan makan dari Ismail ada dipundak Hagar.
Padahal jika kita mau melihat kedalam konteks ayat-ayat aslinya, akan nyatalah bahwa apa yang dimaksudkan dengan bentuk kiasan tersebut sama sekali tidak menunjukkan seperti itu.
Mari kita kupas :
Kejadian 21:14
Maka bangunlah Ibrahim pada pagi-pagi hari, lalu diambilnya roti dan sebuah kirbat yang berisi air, diberikannya kepada Hagar, ditanggungkannya pada bahunya dan anak tersebut, lalu disuruhnya pergi. Maka berjalanlah ia lalu sesatlah ia dalam padang birsjeba.(Alkitab LAI terbitan Djakarta 1963)
Didalam Bible berbahasa Inggris saya kutipkan adalah demikian :
"And Abraham rose up early in the morning, and took bread, and a bottle of water, and gave it unto Hagar, putting it on her shoulder, and THE CHILD, and sent her away: and she departed, and wandered in the wilderness of Beer-sheba.(Genesis 21:14 from "The Restored Name King James Version of the Scriptures")
"So Abraham rose up in the morning, and taking bread and a bottle of water, put it upon her shoulder, and delivered the boy, and sent her away. And she departed, and wandered in the wilderness of Bersabee."(Genesis 21:14 from Douay)
Jadi jelas bahwa Ibrahim mengambil roti dan sebuah kirbat yang berisi air lalu memberikannya kepada Hagar dengan meletakkan keduanya itu diatas pundak Hagar bersama Ismail yang jelas sudah lebih dulu ada dalam dukungannya lalu menyuruh Hagar pergi.
Lihat kalimat bahasa Inggris tidak menyebutkan Hagar dan Ismail tetapi hanya menyebutkan kata "...and sent HER away: and SHE departed, and wandered"
Jadi jelas yang diusir dan berjalan serta tersesat disana adalah Hagar sendirian, sebab Ismail ada dalam gendongan Hagar, bukankah mustahil anak berusia 16 tahun digendong ?
Lalu kita lanjutkan pada kalimat berikutnya :
"Hatta, setelah habislah air yang didalam kirbat itu, maka dibaringkannyalah budak itu dibawah pokok serumpun."(Alkitab LAI terbitan Djakarta 1963: Kejadian 21:15)
"And the water was spent in the bottle, and SHE CAST THE CHILD under one of the shrubs."(From "The Restored Name King James Version of the Scriptures")
"And when the water in the bottle was spent, SHE CAST THE BOY under one of the trees that were there."(From Douay)
Jadi semakin jelas, ketika air didalam kirbat sebagai bekal sudah habis, lalu Ismail (yang secara jelas disebut sebagai THE CHILD dan THE BOY) yang digendong itu diturunkan dari tubuhnya dan dibaringkan dibawah pohon.
Apakah masih mau bersikeras dengan mengatakan kalau kata "menggendong atau memikul" THE CHILD disana bukan dalam arti yang sebenarnya ?
Lalu kita lihat sendiri pada ayat-ayat berikutnya dimana Hagar akhirnya mendapatkan mata air dan memberi minum kepada anaknya (THE CHILD) yang menangis kehausan lalu anak tersebut dibawah bimbingan Tuhan meranjak dewasa, jadi anak itu pada masa tersebut belumlah dewasa, padahal usianya kala itu sudah hampir 17 tahun.
Bagi Ishak sendiri, beliau pun dijanjikan oleh Allah menjadi seorang Nabi yang hanif sebagaimana ayah dan juga saudara tuanya, Ismail, dimana nantinya dari Ishak ini akan terlahir Ya'qub yang kelak menjadi bapak bagi bangsa Israil.
Kepada rekan-rekan dari kalangan Nasrani saya meminta maaf, saya bukan hendak menggurui anda-anda semua atau juga hendak mengadakan pelecehan, tetapi kita sekarang berbicara masalah kebenaran dan keobjektivitasan yang bisa sama-sama kita saksikan.
Saya dapat memahami jika anda dari kaum Nasrani tetap pada pendirian bahwa al-Qur'an salah dan Bible sajalah yang benar, sebab memang dasar pijakan kaum Nasrani ada pada Bible sehingga apapun keyakinan anda maka tidak akan jauh dari apa yang dikatakan oleh Bible.
"Kebenaran itu adalah dari Tuhan-mu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu." (Qs. Al-Baqarah 2:147)
"Sesungguhnya telah datang dari Tuhanmu bukti-bukti yang terang; maka barangsiapa melihat (kebenaran itu), maka manfa'atnya bagi diri sendiri; dan barangsiapa buta (tidak melihat kebenaran itu), maka kemudharatannya kembali kepadanya." (Qs. Al-An'am 6:104)
"Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada."
(Qs. al-Hajj 22:46)
"Dan sesungguhnya Kami telah menjadikan isi neraka itu beberapa banyak dari Jin dan manusia, yang mempunyai hati tetapi tidak untuk mengerti dengannya, mempunyai mata tidak untuk melihat dengannya dan mempunyai telinga tidak dipergunakan untuk mendengarkan; mereka itu seperti binatang, malah mereka lebih sesat." (Qs. al-A'raaf 7:179)
"Sekalipun melihat, mereka tidak melihat. Sekalipun mendengar, mereka tidak mendengar dan tidak mengerti." (Matius 13:13)


"STUDI KRITIS PEMAHAMAN ISLAM"
Oleh ARMANSYAH

Sponsor link:

0 komentar:

Copyright © 2013 Situs Berita Islam