Menolak Takwil

Faham salafiyah tampak ketat dalam hal takwil, bahkan dalam kitab Dasar-dasar Akidah Para Imam Salaf ditulis jelas sebuah judul “Menolak Takwil.” Judul itu menjelaskan:

   Takwil bagi ulama mutakallimin umumnya menuntut dijadikannya akal sebagai dasar penafsiran yang mengalahkan syara’. Sehingga jika terjadi kontradiksi antara dalil syar’i dan aqli, mereka menakwilkan nash disesuaikan dengan akal, seperti menakwilkan dalil ru’yatullah pada hari kiamat, dalil ‘uluwullah, ayat-ayat tentang sifat (Allah) dan lainnya. Sedang ulama salaf menolak takwil jenis ini dan menyalahkan orang yang mengucapkannya. Mereka (Salaf) begitu membencinya, karena takwil ini mengakibatkan kepada peniadaan (isi) nash dan kelancangan terhadap makna dengan menyusupkan ra’yu yang bertujuan merusak syari’ah, menyesatkan orang yang meyakininya dan merapuhkan akidah yang terhunjam kuat di dada serta mengeruhkan akidah yang terang. Takwil yang sahih menurut para salaf ialah yang sesuai dengan apa yang dimaksud oleh nash dan yang dibawa oleh Sunnah, sedang takwil lainnya rusak dan menyimpang. 

    Takwil menurut salaf sebagai berikut:
  فالتأويل في كتاب الله وسنة رسوله ص م : هو الحقيقة التي يؤول اليها الكلام.
    Takwil dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah Rasul saw adalah maksud dari ucapan itu sendiri.
    Definisi itu dijelaskan: Maka takwil khabar (bukan kalimat perintah atau larangan, pen) adalah ujud (‘ain) yang dikhabarkannya. Dan takwil perintah (al-amr) adalah perbuatan yang diperintahkan itu sendiri. Sebagaimana Aisyah ra berkata: Adalah Rasulullah saw berucap dalam ruku’nya:
   سبحانك اللهم ربنا وبحمدك اللهم اغفرلي
beliau mentakwilkan Al-Qur’an

فسبح بحمد ربك واستغفره إنه كان توابا.(مسلم 484، وأبو داود، وابن ماجة والنسائ، وأحمد).
    Selanjutnya dijelaskan: Dan adapun suatu khabar seperti khabar tentang Allah dan hari akhir, maka ini kadang tidak diketahui takwil kejadian sebenarnya, karena dia tidak diketahui dengan semata-mata murni khabar itu. Karena hal yang dikhabarkan apabila belum tergambarkan atau belum diketahui sebelumnya, maka tidak diketahui kenyataannya, yang hal itu takwilnya adalah hakekat khabar itu sendiri. Dan (kenyataan akherat dsb sebenarnya seperti apa, pen) inilah takwil yang tidak diketahui kecuali oleh Allah saja. 

   Takwil dalam pembicaraan kaum muta’akhirin dari kalangan fuqaha’ dan mutakallimin adalah mengalihkan lafal dari kemungkinan yang kuat kepada kemungkinan yang lemah karena adanya dilalah yang mewajibkan demikian. Dan ini adalah takwil yang dipertentangkan orang dalam banyak hal baik khabariyah  (kalimat berita) maupun thalabiyah (kalimat perintah, larangan dsb). Maka takwil yang benar adalah yang sesuai dengan apa yang ditunjuk nash kitab dan sunnah. Sedang yang menyelisihinya adalah takwil rusak (fasid).

    Ta’wil menurut Muta’akhirin, adalah memalingkan lafal dari makna dhahirnya, dan dengan inilah para pengubah (muharrifun) menggagahi nash. Dan mereka mengatakan: “Kami menakwilkan apa yang menyelisihi perkataan kami”. Maka mereka telah menamakan tahrif (pengubahan nash) dengan ta’wil. 

   Demikianlah penolakan kaum Salaf terhadap takwil.
    Tentang Allah di atas ‘Arsy
    Menurut Salaf, Allah itu Maha Tinggi di atas langit sesuai dengan keagungan Allah dan tidak sama dengan tingginya makhluk, karena sifat Mahatingginya itu adalah sifat yang sempurna bagi Allah. Hal itu sudah ditetapkan sendiri oleh Allah dalam kitabNya dan sabda Rasulullah saw, sedang fitrah dan cara berfikir yang sehat juga mendukung kenyataan tersebut.
   Al-Qur’an, hadits shahih, naluri dan cara berfikir yang sehat telah mendukung kenyataan bahwa Allah berada di atas ‘Arsy.
1.      Firman Allah:
  الرحمن على العرش استوى. (طه: 5).
Allah yang Maha Pemurah bersemayam di atas ‘Arsy.” (Thaha:5).
   Pengertian ini sebagaimana diriwayatkan Bukhari dari beberapa Tabi’in.
2.      Firman Allah:
Apakah kamu merasa aman terhadap Yang di langit? Bahwa Dia akan menjungkir balikkan bumi bersama kamu....” (Al-Mulk: 16).
Menurut Ibnu Abbas, yang dimaksud dengan “Yang di langit” adalah Allah, sebagaimana dituturkan dalam Kitab Tafsir Ibnul Jauzi.
3.      Firman Allah:
Mereka takut kepada Tuhan mereka yang berada di atas mereka....” (An-Nahl: 50).
4.      Firman Allah tentang Nabi Isa ‘as.
Tetapi Allah mengangkatnya kepada-Nya....” (An-Nisa’: 158).
Maksudnya, Allah menaikkan Nabi Isa ke Langit.
5.      Firman Allah:
Dan Dia lah Allah (yang disembah) di langit....” (Al-An’aam: 3).
Ibnu Katsir mengomentari ayat ini sebagai berikut: “Para ahli tafsir sependapat bahwa kita tidak akan berkata seperti ucapan kaum Jahmiyah yang mengatakan bahwa Allah tidak berada di setiap tempat. Maha Suci Allah dari ucapan mereka.” 
6.   Rasulullah saw mi’raj ke langit ke tujuh dan difirmankan kepadanya oleh Allah serta diwajibkan untuk melakukan shalat lima waktu. (Riwayat Bukhari dan Muslim).
7.   Rasulullah saw pernah menanyai seorang budak  wanita: “Di mana Allah?” Jawabnya: “Di langit” Rasulullah bertanya lagi: “Siapa saya?” Dijawab lagi: “Kamu Rasul Allah.” Lalu rasulullah bersabda: “Merdekakanlah dia, karena dia seorang mukminah.” (Riwayat Muslim).
Sabda Rasulullah saw:
   ‘Arsy itu berada di atas air, dan Allah berada di atas Arsy, Allah mengetahui keadaanmu.” (Hadits Hasan riwayat Abu Daud).


Bila Kiyai Menjadi Tuhan
Membedah Faham Keagamaan NU & Islam Tradisional
Oleh : Hartono Ahmad Jaiz

Kunjungi juga:

0 komentar:

Masalah Kitab Dalail al-Khairat

Nahdlatul Ulama, baik secara perorangan kiyai-kiyainya maupun secara organisasi, dalam sejarahnya telah dengan gigih mempertahankan wiridan dengan membaca Kitab Dalail al-Khairat.  “Perjuangan” mereka itu bukan hanya di Indonesia di depan kalangan kaum pembaharu, namun bahkan sampai ke Raja Saudi dengan jalan mengirimkan surat yang di antara isinya mempertahankan wiridan dari kitab karangan orang mistik./ shufi dari Afrika Utara, Al-Jazuli itu. Meskipun demikian, kaum pembaharu di Indonesia tidak menggubris upaya-upaya kaum Nahdliyin/ NU itu. Demikian pula Raja Saudi tidak menjawabnya secara khusus tentang Kitab Dalail al-Khairat itu.

   Untuk memudahkan pembaca, maka di sini diturunkan fatwa tentang boleh tidaknya membaca atau mewiridkan Kitab Dalail al-Khairat itu dari Lajnah Daimah kantor Penelitian Ilmiyah dan Fatwa di Riyadh. Ada pertanyaan dan kemudian ada pula jawabannya, dikutip sebagai berikut:

 Soal kelima dari Fatwa nomor 2392:
Soal 5: Apa hukum wirid-wirid auliya’ (para wali) dan shalihin (orang-orang shalih) seperti mazhab Qadyaniyah dan Tijaniyah dan lainnya? Apakah boleh memeganginya ataukah tidak, dan apa hukum Kitab Dalail al-Khairat?

Jawab 5: Pertama: Telah terdapat di dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits nash-nash (teks) yang mengandung do’a-do’a dan dzikir-dzikir masyru’ah (yang disyari’atkan). Dan sebagian ulama telah mengumpulkan satu kumpulan do’a dan dzikir itu, seperti An-Nawawi dalam kitabnya al-Adzkar , Ibnu as-Sunni dalam Kitab ‘Amalul Yaum wallailah, dan Ibnul Qayyim dalam Kitab Al-Wabil As-Shoib, dan kitab-kitab sunnah yang mengandung bab-bab khusus untuk do’a-do’a dan dzikir-dzikir, maka wajib bagimu merujuk padanya.

Kedua: Auliya’ (para wali) yang shalih adalah wali-wali Allah yang mengikuti syari’at-Nya baik secara ucapan, perbuatan, maupun i’tikad (keyakinan). Dan adapun kelompok-kelompok sesat seperti At-Tijaniyyah maka mereka itu bukanlah termasuk auliya’ullah (para wali Allah). Tetapi mereka termasuk auliya’us syaithan (para wali syetan). Dan kami nasihatkan kamu membaca kitab Al-Furqon baina auliya’ir Rahman wa Auliya’is Syaithan, dan Kitab Iqtidhous Shirothil Mustaqiem Limukholafati Ash-habil Jahiem, keduanya oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.
Ketiga: Dari hal yang telah dikemukakan itu jelas bahwa tidak boleh bagi seorang muslim mengambil wirid-wirid mereka dan menjadikannya suatu wiridan baginya, tetapi cukup atasnya dengan yang telah disyari’atkan yaitu yang telah ada di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Keempat: Adapun Kitab Dalail al-Khairat maka kami nasihatkan anda untuk meninggalkannya, karena di dalamnya mengandung perkara-perkara al-mubtada’ah was-syirkiyah (bid’ah dan kemusyrikan). Sedangkan yang ada di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah terkaya darinya (tidak butuh dengan bid’ah dan kemusyrikan yang ada di dalam Kitab Dalail Al-Khairat itu).
   Wabillahit taufiq. Washollallahu ‘alaa nabiyyinaa Muhammad, wa alihi washohbihi wasallam.
    Al-Lajnah Ad-Da’imah lil-Buhuts al-‘Ilmiyyah wal Ifta’:
Ketua Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, anggota Abdullah bin Ghadyan, anggota Abdullah bin Qu’ud. 


Dalam Kitab Dalail al-Khairat  di antaranya ada shalawat bid’ah sebagai berikut:
  اللهم صل على محمد حتى لايبقى من الصلاة شيء وارحم محمدا حتى لايبقى من الرحمة شيء .

   “Ya Allah limpahkanlah keberkahan atas Muhammad, sehingga tak tersisa lagi sedikitpun dari keberkahan, dan rahmatilah Muhammad, sehingga tak tersisa sedikitpun dari rahmat.”
   Lafadh bacaan shalawat dalam Kitab Dalail Al-Khairat di atas menjadikan keberkahan dan rahmat, yang keduanya merupakan bagian dari sifat-sifat Allah, bisa habis dan binasa. Ucapan mereka itu telah terbantah oleh firman Allah:
   قل لو كان    
                                       بمثله مددا  ( الكهف: 109)
  
   “Katakanlah, ‘Kalau sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula).” (Al-Kahfi: 109).

    Dari kenyataan usulan resmi NU kepada Raja Saudi Arabia yang ingin agar tetap dibolehkan membaca dzikir dan wiridan yang diamalkan oleh sebagian orang NU di antaranya do’a-do’a dalam Kitab Dalailul Khiarat (tentunya termasuk pula dzikir-dzikir aneka aliran thariqat/ tarekat), dan kenyataan fatwa ulama resmi Saudi Arabia, maka sangat bertentangan. NU menginginkan untuk dilestarikan dan dilindungi. Sedang ulama Saudi menginginkan agar ditinggalkan, karena mengandung bid’ah dan kemusyrikan, sedang penganjurnya yang disebut syaikh pun digolongkan wali syetan.  Hanya saja kasusnya telah diputar sedemikian rupa, sehingga balasan surat Raja Saudi Arabia yang otentiknya seperti tercantum di atas, telah dimaknakan secara versi NU yang seolah misi NU itu sukses dalam hal direstui untuk mengembangkan hal-hal yang NU maui. Hingga surat Raja Saudi itu seolah jadi alat ampuh untuk menggencarkan apa yang oleh ulama Saudi disebut sebagai bid’ah dan kemusyrikan. 

   Di antara buktinya, bisa dilihat ungkapan yang ditulis tokoh NU, KH Saifuddin Zuhri sebagai berikut:
   “Misi Kyai ‘Abdul Wahab Hasbullah ke Makkah mencapai hasil sangat memuaskan. Raja Ibnu Sa’ud berjanji, bahwa pelaksanaan dari ajaran madzhab Empat dan faham Ahlus Sunnah wal Jama’ah pada umumnya memperoleh perlindungan hukum di seluruh daerah kerajaan Arab Saudi. Siapa saja bebas mengembangkan faham Ahlus Sunnah wal Jama’ah ajaran yang dikembangkan oleh Empat Madzhab, dan siapa saja bebas mengajarkannya di Masjidil Haram di Makkah, di Masjid Nabawi di Madinah dan di manapun di seluruh daerah kerajaan. 

   Apa yang disebut hasil sangat memuaskan, dan bebasnya mengembangkan Ahlus Sunnah wal Jama’ah itulah yang dipasarkan oleh NU di masyarakat dengan versinya sendiri. Sebagaimana pengakuan Abdurrahman Wahid, didirikannya NU itu untuk wadah berorganisasi dan mengamalkan ajaran Ahlus Sunnah wal Jama’ah versinya sendiri. Versinya sendiri yaitu yang memperjuangkan lestarinya tradisi mereka di antaranya yang telah diusulkan dengan nyata-nyata bukan hanya di dalam negeri tetapi sampai di Saudi Arabia yaitu pengamalan wirid Kitab Dalail Al-Khairat dan dzikir-dzikir lainnya model NU di antaranya tarekat-tarekat. Akibatnya, sekalipun ulama Saudi Arabia secara resmi mengecam amalan-amalan yang diusulkan itu ditegaskan sebagai amalan yang termasuk bid’ah dan kemusyrikan, namun di dalam negeri Indonesia, yang terjadi adalah sebaliknya. Seakan amalan-amalan itu telah mendapatkan “restu” akibat penyampaian-penyampaian kepada ummat Islam di Indonesia yang telah dibikin sedemikian rupa (bahwa misi utusan NU ke Makkah sukses besar dan direstui bebas  untuk mengamalkan Ahlus Sunnah wal Jama’ah) sehingga amalan-amalan itu semakin dikembangkan dan dikokohkan secara organisatoris dalam NU. Bahkan secara resmi NU punya lembaga bernama Tarekat Mu’tabarah Nahdliyin didirikan 10 Oktober 1957 sebagai tindak lanjut keputusan Muktamar NU 1957 di Magelang. Belakangan dalam Muktamar NU 1979 di Semarang ditambahkan kata Nahdliyin, untuk menegaskan bahwa badan ini tetap berafiliasi kepada NU. 


   Setelah bisa ditelusuri jejaknya dari semula hingga langkah-langkah selanjutnya, maka tampaklah apa yang mereka upayakan –dalam hal ini didirikannya NU itu untuk apa-- itu sebenarnya adalah untuk melestarikan dan melindungi amalan-amalan yang menjadi bidikan kaum pembaharu ataupun Muslimin yang konsekuen dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Tanpa adanya organisasi yang menjadi tempat berkumpul dan tempat berupaya bersama-sama secara maju bersama, maka amalan mereka yang selalu jadi sasaran bidik para pembaharu yang memurnikan Islam dari aneka bid’ah, khurafat, takhayul, dan bahkan kemusyrikan itu akan segera bisa dilenyapkan bagai lenyapnya kepercayaan Animisme yang sulit dikembang suburkan lagi. Menyadari akan sulitnya dan terancamnya posisi mereka ini baik di dalam negeri maupun di luar negeri terutama ancaman dari Saudi Arabia, maka mereka secara sukarela lebih merasa aman untuk bergandeng tangan dengan kafirin dan musyrikin, baik itu kafirin Ahli Kitab yaitu Yahudi dan Nasrani, maupun kafirin anti Kitab yaitu PKI (Komunis) dan anak cucunya, serta musyrikin yaitu Kong Hucu, Hindu, Budha; dan Munafiqin serta kelompok nasionalis sekuler anti syari’at Islam ataupun kelompok kiri  anti Islam. 

   Untuk itulah dia lahir atau dilahirkan, sepanjang data dan fakta yang bisa dilihat dan dibuktikan, namun bukan berarti hanya untuk itu saja. Bagaimana pula kalau ini justru  dijadikan alat oleh musuh Islam untuk kepentingan mereka?   


Bila Kiyai Menjadi Tuhan
Membedah Faham Keagamaan NU & Islam Tradisional
Oleh : Hartono Ahmad Jaiz

Kunjungi juga:

0 komentar:

KOREKSI PEMAHAMAN AHMADIYYAH DAN SALAMULLAH

Bagian 3:

Secara logika, didalam banyak ayat al-Qur'an, Allah telah memerintahkan agar kita menteladani apa saja yang dicontohkan oleh Rasulullah Saw (Qs. al-Ahzaab 33:21), mengikuti apa-apa yang ditetapkan beliau (salah satunya Qs. at-Taghaabun 64:12 dan Qs. al-Anfaal 8:24) serta tidak membantah apa yang sudah ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya (Qs. al-Ahzaab 33:36)
Adalah sudah umum, bahwa orang yang paling mengenal diri kita dan tahu apa dan bagaimana tingkah keseharian kita hanyalah keluarga terdekat kita, orang tua, istri, anak, cucu, menantu maupun orang-orang yang tinggal dan hidup bersama kita dalam kurun waktu yang lama.
Begitupun dengan Rasul, tentunya orang yang paling banyak tahu dan mengerti tentang beliau adalah istri-istrinya, putri-putri kesayangannya, pamannya, keponakannya, cucunya, pengasuhnya dan baru para sahabatnya.
Pada awal pengangkatan Muhammad sebagai Nabi, beliau diperintahkan oleh Allah untuk mengajak terlebih dahulu keluarganya yang terdekat (Qs. asy-Syu'araa 26:210-214), dalam hal ini orang yang pertama kali mengikuti ajakan Rasul adalah istrinya yang tercinta, Khadijjah r.a, putri-putri beliau dari Khadijjah, kemudian saudara misannya yang telah tinggal bersama-sama dengan beliau, Ali Bin Abu Thalib dan baru selanjutnya menyebar kepada paman sekaligus saudara sesusuan beliau, Hamzah bin Abdul Mutholib dan sejumlah sahabatnya terdekat seperti Abu Bakar dan sebagainya.
Dalam beberapa Hadist lain yang diriwayatkan melalui jalur ahli Bait, Rasulullah Saw pernah bersabda :
"Wahai manusia, aku tinggalkan apa yang akan menghindarkan kamu dari kesesatan selama kalian berpegang teguh padanya, Kitab Allah dan 'Ittrahku, ahli Baitku."
(Riwayat Turmudzi dan Nasai dari Jabir).
"Aku tinggalkan padamu apa yang mencegah kamu dari kesesatan selama kamu berpegang teguh pada keduanya; Kitab Allah, tali penghubung yang terentang antara langit dan bumi, dan 'itrahku, ahli Baitku. Keduanya tidak akan berpisah sampai berjumpa denganku di al-Haud."
(Riwayat Ahmad dari Zaid bin Tsabit, diriwayatkan pula oleh Ibnu Abi Syaibah, abu Ya'la dan Ibnu Sa'ad dari Abu Sa'id serta Turmudzi dari Zaid bin arqam juga diriwayatkan oleh Muslim dalam Riyadhush-Shalihin).
Allah telah menjadikan orang-orang suci dari keluarga Nabi Ibrahim melalui keturunan Nabi Ismail dan Nabi Ishaq, maka hal yang sama juga dapat terjadi pada Nabi Muhammad Saw dan garis keturunannya kecuali diantara mereka yang ingkar.
"Sesungguhnya manusia yang paling mendekati Ibrahim adalah mereka yang mengikutinya dan Nabi ini (Muhammad Saw) serta orang-orang yang beriman (umatnya); adalah Allah pemimpin kaum Mu'minin."
(Qs. ali Imran 3:68)
Tatkala Nabi Ibrahim as ditunjuk oleh Allah selaku Imam bagi manusia, beliau bermunajat kepada Allah agar para keturunannya pun dapat menjadi orang-orang yang shaleh dan pengikutnya (Qs. al-Baqarah 2:124), namun dijawab oleh Allah bahwa petunjuk-Nya tidak berlaku bagi orang-orang yang zalim meskipun dari keturunan Nabi Ibrahim as.
Sementara itu berbeda dengan jawaban Allah untuk ahli Bait Nabi Ibrahim, Allah berfirman dalam al-Qur'an sehubungan dengan ahli Bait Nabi Muhammad Saw :
"Sesungguhnya Allah bermaksud untuk menghilangkan dosa dari kamu wahai ahli Bait dan menyucikan kamu dengan sebenarnya."
(Qs. al-Ahzab 33:33)
Jadi sekali lagi, apabila memang benar Imam al-Mahdi itu berasal dari keturunan Nabi Muhammad Saw sebagaimana isi Hadist yang kita jumpai dalam kalangan ahli Bait, maka semuanya sama sekali tidak bertentangan dengan al-Qur'an dan pemikiran yang wajar (rasionalitas).
"Dan orang-orang yang beriman dan di-ikuti oleh anak-cucu mereka dalam keimanannya itu, Kami akan hubungkan anak-cucu mereka dengan mereka serta Kami tidak mengurangi sedikitpun dari amal mereka, tiap-tiap orang bergantung dengan apa yang ia telah usahakan."
(Qs. ath-Thur 52:21)
Dalam salah satu Hadist yang diriwayatkan oleh Bukhari ketika menafsirkan surah al-Ahzab, yang juga diriwayatkan oleh Muslim dengan riwayat Ka'ab bin 'Ujarah :
"Ketika turun ayat ke-56 dalam surah al-Ahzaab yang memerintahkan orang-orang beriman untuk bersholawat kepada Nabi, bertanyalah para sahabat kepada Rasulullah Saw: 'Ya Rasulullah, mengenai ucapan salam yang harus kami tujukan pada anda, kamu telah mengerti. Tapi bagaimanakah kami mengucapkan sholawat ?"; Maka jawab beliau mengajarkan kepada mereka: 'Katakanlah: 'Allahumma Sholli'ala Muhammad wa'ala Ali Muhammad (Ya Allah, limpahkanlah rahmat-Mu atas Muhammad dan keluarga Muhammad)."
Sholawat ini juga yang senantiasa dibaca oleh semua umat Islam dari jemaah manapun ia dalam setiap sholat mereka tidak perduli apa dan bagaimana cara pandang mereka terhadap generasi Rasulullah Saw.
"Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bersholawat atas Nabi; Wahai orang-orang yang beriman, bersholawatlah atasnya dan ucapkanlah salam dengan sebenarnya."
(Qs. al-Ahzab 33:56)
Kembali kepada paham Mahdihisme yang terdapat dalam jemaah Ahmadiyah dan jemaah Salamullah, keduanya menisbatkan al-Qur'an surah ash-Shaff ayat 6 untuk merujuk kepada pribadi Rasul yang dinubuatkan oleh Nabi 'Isa al-Masih pada diri Mirza Ghulam Ahmad dan Ahmad Mukti.
"Hai bani Israil ! Sesungguhnya aku, utusan Allah kepadamu, membenarkan Taurat yang sudah ada sebelumku, dan memberi khabar gembira tentang seorang Rasul sesudahku, bernama Ahmad ! Tapi ketika ia datang kepada mereka membawa keterangan, Mereka berkata, "Ini satu sihir yang nyata !". (QS. Ash Shaff 61:6)
Dengan berdasarkan nama "Ahmad" ini, kedua jemaah sepakat menolak untuk menisbatkannya kepada Rasulullah Saw yang menurut mereka bernama "Muhammad" bin Abdullah bukan "Ahmad" bin Abdullah.
Sampai disini, pernyataan keduanya masih dapat kita terima, namun apabila secara bijak kita membuka beberapa buah berita Hadist yang dinisbatkan dari Rasulullah Saw maka akan kita dapati pula keterangan yang menyatakan bahwa "Ahmad" adalah salah satu dari beberapa nama dan gelar yang dimiliki oleh Muhammad bin Abdullah, utusan Allah.
Kedua nama ini berasal dari akar kata Hamd, yang berarti puji.
Kata Ahmad artinya orang yang banyak memuji, sedangkan kata Muhammad artinya orang yang sangat terpuji.
Nama Muhammad menunjukkan sifat kebesaran, kemenangan dan kemuliaan, yakni yang lazim disebut sifat Jalali.
Sejarah telah mencatat secara jujur dengan tinta emas mengenai kebesaran dan keagungan Nabi Muhammad Saw dalam berbagai bidangnya, baik mereka yang beriman kepadanya ataupun orang-orang yang sebenarnya mengambil sikap permusuhan dengan kebenaran yang beliau bawa dari Allah.
Nama besarnya akan tetap menjadi yang paling masyur sepanjang jaman, keagungan sosok Nabi umat Islam ini melampaui kebesaran tokoh-tokoh yang paling berpengaruh selama-lamanya.
Sedangkan nama "Ahmad", lebih menunjukkan sifat keindahan, keelokan dan kehalusan budi, yakni jang lazim disebut sifat Jamali.
Allah menyukai hal-hal yang indah, dan Dia senantiasa mempergunakan kata-kata yang halus dan indah dalam setiap firman-Nya yang tercatat dalam al-Qur'an, dan istimewa kepada Nabi-Nya yang berfungsi selaku "Khatamannabi", Allah lebih sering memanggil beliau dengan nama "ya ayyuhannabi" (wahai Nabi) dan bukan "wahai Muhammad" sebagaimana yang kita jumpai dalam ayat-ayat al-Qur'an yang lain manakala Allah memanggil para Nabi sebelumnya.
Nabi Muhammad Saw sebagaimana yang sudah diungkapkan, adalah sosok manusia yang berkepribadian tinggi, penuh welas asih dan sabar terhadap semua orang, baik mereka itu keluarganya, para sahabatnya bahkan juga terhadap perlakuan kejam para musuh-musuhnya.
Untuk ini Allah berfirman dalam al-Qur'an :
"Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang Rasul (yaitu Muhammad) dari antara kamu, berat baginya penderitaanmu, sangat menginginkan kebaikan bagi kamu; amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mu'min."
(QS. al-Bara'ah 9:128)
"Adalah karena rahmat dari Allah, kamu (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap kasar lagi berhati keras, tentulah mereka menjauhkan diri dari lingkunganmu."
(Qs. Ali Imran 3:159)
Inilah gambaran sesungguhnya dari nama "Ahmad" dan "Muhammad" yang melekat pada diri putera Abdullah dan Aminah dari garis keturunan Bani Hasyim yang merupakan generasi kesekian dari Nabi Ibrahim melalui benih Nabi Ismail as.


"STUDI KRITIS PEMAHAMAN ISLAM"
Oleh ARMANSYAH

Sponsor link:

0 komentar:

Tafsir Kitab Ulangan

"YÁOHU UL thy ULHIM will raise up unto thee a Prophet from the midst of thee, of thy brethren, like unto me; unto him ye shall hearken." (Deuteronomy 18 :15)
Pada ayat diatas, Nabi Musa menyebutkan bahwa Allah akan membangkitkan SEORANG NABI kepada Bani Israil yang berasal dari saudara mereka yang mana Nabi tersebut akan memiliki karakteristik SAMA seperti halnya Nabi Musa.
Dalam beberapa perdiskusian yang pernah saya lakukan dengan kaum Ahli Kitab (Nasrani), mereka menyandarkan bahwa terhadap Yesus-lah nubuatan Nabi Musa ini ditujukan. Namun bila kita kaji lebih jauh, rasanya kesimpulan tersebut terlalu dini untuk dinisbatkan kepada Yesus.
Kalimat "brethren atau dari antara saudaramu" yang tercantum dalam kalimat Nabi Musa as pada ayat diatas, jelas dari tidak merefer pada kalangan Yahudi sendiri.
Mari kita analogikan ayat tersebut :
1. Arman X Saudaranya Arman (Adik atau kakak saya)
Disini saudara Arman bukanlah Arman itu sendiri, melainkan harus orang lain
2. Seorang Israel X Saudaranya Israel
Saudaranya Israel adalah bukan Israel itu sendiri tetapi Bani Ismail
Jadi ayat Ulangan 18:15 jo Ulangan 18:18 tersebut jika kita artikan secara harfiah akan memiliki makna :
"Seorang Nabi akan dibangkitkan lagi oleh Allah bagi kaum Bani Israil tetapi Nabi tersebut berasal dari saudara mereka, yaitu Bani Ismail, dimana Nabi dari Bani Ismail ini akan memiliki karakteristik dan keagungan sama seperti Musa yang berasal dari Bani Israil."
Saudara Bani Israel terkecuali Bani Ismail, tidak ada yang mengeluarkan doktrin keNabian, termasuklah didalamnya dari benih Ketura. Hanya Bani Ismail sajalah yang kita dapati Nabi dari antara saudara Bani Israi tersebut.
Islam menolak konsep bahwa Musa telah bertemu dengan Allah secara berhadapan muka, sebab Allah tidak dapat dilihat. Dan jika kita kembalikan pula hal ini pada Bible, kita pun akan mendapati keterangan yang serupa, Allah itu adalah dzat yang Maha halus yang tidak bisa dicapai dengan penglihatan. Dan perihal adanya nas terlihatnya Allah dalam beberapa ayat Bible yang justru menimbulkan suatu kontradiksi dalam ayat-ayat Bible sendiri.
Lihat Kejadian 17:22 ... apakah maksudnya Allah naik meninggalkan Abraham ?
Apakah anda menyetujui bahwa Allah bisa terlihat oleh Abraham sebagaimana pada Kejadian 17:1 ?
Jika jawabnya "Ya" maka berupa apakah Allah ini yang terlihat oleh Abraham pada kejadian ini ?
Ingat pada Kejadian 17:1 jelas disebut Allah terlihat kepada Abraham dan pada Kejadian 17:22 Tuhan naik meninggalkan Abraham yang menurut penafsiran saya yang awam ini adalah - maaf - seperti seorang pilot pesawat terbang yang tinggal landas meninggalkan bandara.
Lalu pada Kejadian 18:1 dinyatakan lagi Abraham kembali melihat Tuhan dekat pohon Mamre dan kali ini rupanya Tuhan datang bertiga dan disembah oleh Abraham pada Kejadian 18:2 sambil menyediakan dirinya untuk membasuh kaki 3 orang Tuhan ini yang rupanya kotor setelah menemui Abraham.
Kejadian ini rupanya seringkali terjadi.
Banyak ayat dalam Bible yang menyatakan bahwa Tuhan dapat dilihat oleh manusia. Mereka yang pernah melihat Tuhan antara lain: Ishak (Kejadian 26:2), Yakub (Kejadian 35:9), Musa, Harun, Nadab, Abihu dan 70 orang Israel (keluaran 24:9), bangsa Israel (Bilangan 14:14) dan (Yeremia 31:3), Yesaya (6:1)
Bahkan Yakub telah berhasil mengalahkan Tuhan dalam pergumulannya dan menang (Kejadian 32:28) dan juga penamaan tempat Pniel pada Kejadian 32:31 yang dinyatakan bahwa Yakub melihat Allah berhadapan muka serta Musa pada Ulangan 34:10.
"And he said, Thy name shall be called no more Jacob, but Israel: for as a prince hast thou power with Elohim and with men, and hast prevailed." (Genesis 32:28)
"And Jacob called the name of the place Peniel: for I have seen Elohim face to face, and my life is preserved."(Genesis 32:30)
Padahal Injil Yohanes/Yahya/Johnpada 1:18 menyebutkan bahwa Allah belum pernah dilihat oleh seorangpun juga melainkan hanya dinyatakan melalui Jesus selaku utusan-Nya sebagaimana yang dinyatakan oleh Jesus sendiri dalam Injil Yohanes 17:8 dan Samuel 7:22
"Maka kata Pilipus kepadanya: 'Ya Tuan, tunjukkanlah Bapa itu kepada kami, maka padalah (dengan begitu akan cukuplah) itu bagi kami. Kata Jesus kepadanya: 'Hai Pilipus, sekian lamanya aku bersama-sama dengan kamu, dan tiadakah engkau kenal aku ? Siapa yang sudah melihat aku, ia sudah melihat Bapa. Bagaimanakah katamu : 'Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami ?'" (Johanes 14:8-9)
Jadi akhirnya Yesus sendiri menunjukkan kepada Pilipus, bagaimana membuktikan kehadiran Tuhan kepada murid-muridnya; bahwa hal itu tidak mungkin.
Adalah salah apabila umat Kristen menangkap kesan bahwa Jesus sudah menyatakan dirinya sama dengan Allah (alias Bapa). Bagaimana mungkin menafsirkan yang demikian sementara Jesus sendiri menolak anggapan tersebut dalam dua ayat dibawah ini:
John 13:16 - Douay
"Amen, amen I say to you: The servant is not greater than his lord;
Neither is the apostle greater than he that sent him."
John 14:28 - Douay
"Because I go to the Father: for
the Father is greater than I
."
Jelas dari kalimat diatas, bahwa Allah tidaklah sama dengan Jesus, Allah jauh lebih berkuasa, lebih mulia daripada Jesus yang hanya sebagai hamba dari Allah itu sendiri, sebagai utusan Allah kepada Bani Israil.
Kita harus mempercayai eksistensi Tuhan hanya dengan memperhatikan makhlukNya, matahari, bulan, seluruh makhluk dan termasuklah Jesus sendiri yang merupakan ciptaan Tuhan.
Jesus juga menyatakan didalam Johanes 4:24 Elohim is a Spirit (Tuhan adalah Roh ...), Ye have neither heard his voice at any time, nor seen his shape. (Kamu belum pernah mendengar suaraNya atau melihat rupaNya.)" - Johanes 5:37
Bagaimana anda dapat melihat suatu roh ?
Yang dapat mereka lihat adalah Yesus, bukan Tuhan.
Paulus didalam 1 Timotius 6:16 mengatakan hom no man hath seen, nor can see (...yang tiada pernah dilihat atau dapat dilihat orang...)' Hal ini juga terjadi pada Keluaran 33:20 And he said, Thou canst not see my face: for there shall no man see me, and live.
Dalam AlQur'an sendiri dinyatakan :
"Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala yang kelihatan dan Dialah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui."(QS. al-An'aam 6:103)
Bagaimana menurut pendapat anda ini ?
Saya rasa anda tidak akan lari dari kebenaran, bukan ?
Lalu sekarang kita kembalikan pembahasan kita pada diri Nabi Musa yang dikatakan telah berhadapan dengan Tuhan secara muka bukan dalam arti yang sesungguhnya sebagaimana saya umpamanya berhadapan dengan anda disuatu ruangan lobi sebuah hotel.
Melainkan bahwa Allah telah berkenan untuk menyampaikan langsung wahyu-Nya kepada Nabi Musa as tanpa perantaraan malaikat-Nya, dan ini pun dialami oleh Nabi Muhammad Saw ketika mendapatkan kewajiban sholat dalam perjalanan Mi'raj beliau ke Sidratul Muntaha.
Sekarang, untuk menghormati pemahaman Kristen bahwa Nabi yang dimaksud dari "Brethern of Israel" itu adalah Jesus, mari sama-sama kita lihat dan pelajari secara objektif.
Dalam hal apa persamaan Jesus terhadap Musa ?
Jika ditilik dari garis keturunan, adalah benar Jesus serupa dengan Musa, yaitu sama-sama orang Yahudi. Dan ditilik dari status mereka-pun adalah sama, yaitu Musa adalah seorang Nabi dan Jesus-pun diakui sebagai Nabi.
Penyandaran kedua hal persamaan diatas, rasanya tidak memiliki pengaruh apapun dalam hal pemenuhan nubuat dari Musa, sebab kriteria ini dapat dipenuhi oleh setiap tokoh setelah Musa seperti Sulaiman, Yesaya, Ezekiel, Daniel, Hosea, Yoel, Malachi, Yohanes pembaptis dan lain sebagainya, karena secara garis keturunan, mereka pun orang Yahudi yang sekaligus juga berstatuskan Nabi, lalu kenapa tidak menetapkan kepada salah seorang Nabi tersebut dan kenapa mesti kepada Jesus ?
Dari apa yang bisa saya simpulkan, terlebih dahulu disertai dengan permintaan maaf kepada anda dan umat Nasrani lainnya, saya katakan bahwa Jesus tidak sama seperti Musa.
Bahwa Jesus dalam kalangan Nasrani sekarang ini dianggap sebagai Tuhan sementara Musa bukanlah Tuhan.
Jesus telah dianggap wafat untuk menebus dosa-dosa manusia, tetapi Musa tidak wafat untuk hal tersebut.
Jesus bangkit setelah 3 hari wafatnya dikayu salib namun Musa tidak bangkit dari kematian setelah 3 hari dari wafatnya
Oleh karena itu : Jesus tidaklah seperti Musa.
Namun, pada kesempatan ini, dengan hormat, izinkan saya membuat daftar persamaan serta perbedaan antara Nabi Musa - Nabi 'Isa - Nabi Muhammad Saw.
Bahwa :
Musa memiliki seorang Ayah dan Ibu,
Muhammad Saw juga memiliki seorang Ayah dan Ibu
Jesus hanya memiliki Ibu dan tidak memiliki Ayah, sementara Yusuf Arimathaea hanyalah ayah tirinya
Musa dan Muhammad lahir secara normal dan alamiah, yaitu melalui percampuran phisik antara seorang pria dan seorang wanita, sementara Jesus lahir tidak seperti itu.
Musa dan Muhammad menikah dan mempunyai anak, sementara Jesus menurut sejarah Bible tidak menikah dan tidak beranak.
Musa dan Muhammad diterima sebagai seorang Nabi dan Rasul oleh kaumnya dalam kehidupan mereka bahkan hingga jaman sekarang ini sementara Jesus sendiri ditolak oleh kaumnya (Yahudi) sejak dari awal beliau diutus Allah sampai pada menjelang abad millenium kita sekarang, bahkan Jesus sendiri mengatakan bahwa dia harus pergi karena umatnya tidak sanggup mendengar perintahnya.
Musa dan Muhammad selain sebagai Nabi sekaligus juga berfungsi selaku Raja/Pemimpin yang menetapkan aturan hukum kepada masyarakatnya, tidak menjadi masalah apakah mereka mengenakan mahkota dan pakaian kebesaran kerajaan ataupun tidak, namun yang jelas, keduanya diakui sebagai pimpinan oleh masing-masing umatnya pada waktu keduanya masih hidup, sementara Jesus, kerajaannya bukanlah berasal dari dunia melainkan dia hanyalah sebagai seorang pemimpin spiritual
Musa berhijrah kebumi Median, Muhammad berhijrah kebumi Madinah, Jesus tidak hijrah kemanapun didalam menyebarkan misinya.
Musa dan Muhammad menetapkan hukum-hukum baru, sementara Jesus mengikuti hukum Musa
Musa dan Muhammad wafat secara wajar, Jesus wafat disalib
Musa dan Muhammad dikuburkan didalam bumi sementara Jesus dalam pandagangan Nasrani tidak.
Dengan demikian dari persamaan antara Musa terhadap Jesus atau Muhammad yang dijelaskan diatas, maka Muhammad-lah yang lebih condong untuk sama seperti Musa seperti nubuat Ulangan 18:15.
Selanjutnya, kita juga mengetahui bahwa Nabi Ibrahim alias Abraham memiliki dua orang istri, Sarah dan Hagar dimana keduanya melahirkan Ishaq dan Ismail.Dan jika Ishak serta Ismail adalah anak dari ayah yang sama, maka mereka adalah kakak beradik, karenanya anak dari salah seorang mereka adalah saudara dari anak yang lain.
Keturunan Ishak adalah bangsa Yahudi dan keturunan Ismail adalah bangsa Arab, jadi jika disebutkan pada Ulangan 18:15 bahwa sang Nabi akan muncul of thy brethren, maka saudara dari Bani Israil tentu saja adalah Bani Ismail, yaitu bangsa Arab, garis keturunan yang menurunkan Nabi Muhammad Saw.
Allah sendiri menyatakan kepada Bani Israil pada Ulangan 32:21
"Mereka membangkitkan cemburu-Ku dengan yang bukan Allah, mereka menimbulkan murka-Ku dengan berhala mereka. Sebab itu Aku akan membangkitkan cemburu mereka dengan yang bukan kaumnya dan akan menerbitkan amarahnya dengan satu kaum yang hina."
Isa alias Jesus didalam Matius 21:43 juga mengukuhkan pernyataan Allah ini :
"Aku berkata kepadamu, bahwa kerajaan Allah akan diambil daripadamu dan akan diberikan kepada suatu bangsa yang akan menghasilkan buah kerajaan itu."
Jelas sekali ayat-ayat diatas menunjukkan bahwa Allah akan :
1. Mengambil kerajaan-Nya dari Bani Israel
Disini kita mesti memahami bahwa yang dimaksud dengan kerajaan Allah dapat berupa rahmat, kemuliaan, petunjuk, nikmat kenabian
2. Kerajaan Allah tersebut akan dipindahkan kepada suatu bangsa lain yang bukan berasal dari kaum Bani Israel yang telah dipandang hina oleh mereka sebelumnya yang justru dari kaum tersebut akan menghasilkan buah atau karya yang diinginkan oleh Allah dan menimbulkan kebencian yang mendalam dari Bani Israel.
Kalimat yang diutarakan oleh Jesus pada Matius 21:43 tersebut diucapkan di Bait Allah didalam negri Jerusalem dihadapan seluruh Imam dan tua-tua penganut Taurat dinegri itu (Matius 21:23).
Dan Taurat itu adalah kitab Musa kepada Bani Israil, jadi apabila para Imam itu adalah penganut Taurat bahkan guru Taurat, terlepas dari apakah mereka benar-benar seorang yang patuh atau penyeleweng dari hukum Taurat, namun tetap saja mereka adalah bagian dari Bani Israil, dan jika kalimat ini diucapkan oleh Jesus terhadap Imam mereka (Bani Israil), maka secara otomatis seruan Jesus ini tertuju kepada keseluruhan kaumnya, Bani Israil.
Ingatlah kembali akan apa yang diseru oleh Allah didalam Ulangan 32:21 diatas :
"Mereka membangkitkan cemburu-Ku dengan yang bukan Allah, mereka menimbulkan murka-Ku dengan berhala mereka. Sebab itu Aku akan membangkitkan cemburu mereka dengan yang bukan kaumnya dan akan menerbitkan amarahnya dengan satu kaum yang hina."
Ayat diatas ini sangat berkaitan erat dengan apa yang disabdakan oleh Jesus sebelumnya, bahwa Allah telah cemburu (murka) terhadap tindakan Bani Israil yang telah menyekutukan-Nya dengan Tuhan-tuhan lain, untuk itu, Allah juga akan membangkitkan marah dan kecemburuan Bani Israil terhadap kemuliaan yang akan dipindahkan Allah diluar kaum Bani Israil, yaitu suatu kaum yang dianggap mereka hina, yaitu Bani Ismail.
Dan inilah terjadinya disaat Allah mengutus Nabi Muhammad Saw dari Bani Ismail sebagai awal perpindahan kerajaan Allah dari Bani Israil menuju kaum selainnya.
Jadi semakin jelas bahwa kebangkitan Muhammad Saw sebagai salah seorang Nabi dari keturunan Ismail yang telah diberkati Allah sebelumnya, adalah dikarenakan pembangkangan dari keturunan Ishak terhadap Allah sehingga menimbulkan murka Allah dan mengalihkannya kepada kaum Ismail yang disebutkan pada Ulangan 32:21 sebagai kaum yang hina, sebab bukankah Ismail dianggap tidak layak untuk bersama dengan Ishak pada kisah pengusiran Hagar dan Ismail yang dilakukan oleh Sarah pada Kejadian 21:10.
Dan kepada benih Ismail inilah Allah memindahkan kerajaan-Nya dari Bani Israil dan apa yang disebut bahwa akan menghasilkan buah Allah itu menjadi kenyataan ketika masa pengutusan Muhammad Saw yang menjadikannya suatu bangsa yang besar, yang dengan gagah berani menyatakan firman-firman Allah dan mengembalikan citra tauhid sejati, membersihkan segala bentuk keberhalaan dan mendirikan kerajaan Allah diatas dunia ini.
Lalu pengukuhan Isa pada Matius 21:43 akan membuktikan firman Allah terhadap kebesaran Ismail dan keturunannya pada Kejadian 17:20 dan Kejadian 21:18 yang membuktikan bahwa Bani Ismail melalui Muhammad Saw akan menjadi suatu bangsa yang besar dan menghasilkan banyak orang yang beriman kepada Allah secara penuh dan totalitas sebagai yang dimaksud dengan buah kerajaan itu (yaitu kerajaan Allah).
Pembangkangan Bani Israil ini juga disinyalir oleh Allah dalam AlQur'an secara jelas :
"Sesungguhnya Kami telah mengambil perjanjian dari Bani Israil, dan telah Kami utus kepada mereka beberapa orang Rasul. Tetapi setiap datang seorang Rasul kepada mereka dengan membawa apa yang tidak diingini oleh hawa nafsu mereka, mereka dustakan sebagian dan mereka bunuh sebagian." (QS. Al-Ma'idah 5:70)
Lebih jauh kita melihat pada Ulangan 18:17-22 sebagai sambungan dari Ulangan 18:15 :
"Lalu berkatalah TUHAN kepadaku: Apa yang dikatakan mereka itu baik; seorang nabi akan Kubangkitkan bagi mereka dari antara saudara mereka, seperti engkau ini; Aku akan menaruh firman-Ku dalam mulutnya, dan ia akan mengatakan kepada mereka segala yang Kuperintahkan kepadanya.
Orang yang tidak mendengarkan segala firman-Ku yang akan diucapkan nabi itu demi nama-Ku, dari padanya akan Kutuntut pertanggungjawaban. Tetapi seorang Nabi, yang terlalu berani untuk mengucapkan demi nama-Ku perkataan yang tidak Kuperintahkan untuk dikatakan olehnya, atau yang berkata demi nama allah lain, nabi itu harus mati.
Jika sekiranya kamu berkata dalam hatimu: Bagaimanakah kami mengetahui perkataan yang tidak difirmankan TUHAN? -- apabila seorang nabi berkata demi nama TUHAN dan perkataannya itu tidak terjadi dan tidak sampai, maka itulah perkataan yang tidak difirmankan TUHAN; dengan terlalu berani nabi itu telah mengatakannya, maka janganlah gentar kepadanya."
Ulangan 18:19 diatas memperjelas lagi tentang sosok Nabi yang dinubuatkan itu.....Nabi itu datang bukan dari kalangan Bani Israil tetapi dari antara saudara mereka, yaitu bani Ismail ....seperti Musa dimana Allah akan menaruh "firman-Nya" dimulut Nabi tersebut dan dia akan mengatakan kepada mereka segala yang diperintahkan Allah kepadanya.
Jesus adalah Firman Tuhan yang menjelma dalam tubuh Jesus itu sendiri .. demikian keyakinan orang-orang Kristen. Tetapi orang yang dijanjikan itu adalah "menyimpan Firman Tuhan itu" dalam mulutnya.... berarti Firman itu diucapkannya dengan mulutnya... dan penyampaian Firman itu adalah dengan "mengatakannya".
Betapa mungkin nubuatan itu tertuju kepada Jesus yang merupakan penjelmaan Firman Tuhan itu? Kepada siapa lagi nubuatan itu tertuju kalau tidak kepada Muhammad yang senantiasa menyampaikan firman Allah lewat ucapannya Bismillahirahmanirahim.... dengan nama Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang ?
Selain itu, mari kita lihat apa kata al-Qur'an terhadap pribadi Muhammad Saw :
"Dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)."(QS. An Najm 3-4)
Nabi Musa adalah Nabi yang terbesar dikalangan Bani Israel....Semua Nabi-nabi Bani Israil sesudah Musa berhukum kepada Taurat yang diturunkan kepada beliau... dan Taurat adalah Kitab syariat yang paling sempurna untuk Bani Israel, bahkan Jesus sendiri mengatakan bahwa kedatangannya sama sekali tidak hendak untuk merombak hukum Taurat atau juga kitab para Nabi sebelumnya, sebab tercatat hukum Taurat tidak akan dibatalkan hingga langit dan bumi hancur sampai seluruhnya terjadi, yaitu datangnya sang Nabi terakhir, Muhammad Saw.
Nabi Muhammad Saw adalah Nabi yang terakhir dan terbesar untuk semua manusia Bani Adam ini dan risalahnya meliputi semua kaum dan manusia dimuka bumi ini....termasuk Bani Israel.
Dengan kedatangan Nabi Muhammad Saw selesailah misi Nabi Musa yang kedatangannya hanya terbatas untuk Bani Israel saja. Semua pengikut Taurat dan Injil itu harus menerima kerasulan Muhammad Saw sebagaimana isi terakhir dari ayat Matius 5:18 ..."sampai seluruhnya terjadi", yaitu sampai masa Nabi yang dinubuatkan oleh Musa dalam Tauratnya itu tiba, maka Taurat tidak lagi wajib untuk di-ikuti dan berganti dengan kitab selanjutnya.
Selain itu, sebagaimana isi Ulangan 18:22 :
"Apabila seorang nabi berkata demi nama TUHAN dan perkataannya itu tidak terjadi dan tidak sampai, maka itulah perkataan yang tidak difirmankan TUHAN; dengan terlalu berani nabi itu telah mengatakannya, maka janganlah gentar kepadanya."
Nabi Muhammad Saw berbicara menyampaikan firman Allah kepada seluruh umat manusia tanpa dibatasi oleh golongan maupun bangsa. Semasa hidupnya, beliau Saw menyerukan Islam kepada Heraklius, penguasa Persia, Roma, Najasyi raja Ethiopia, Muqauqis (gubernur Mesir) dan sebagainya.
Dikala Nabi Muhammad Saw melakukan hijrah kekota Yatsrib (Madinah - sekarang), kala itu kota ini masih dihuni oleh berbagai kelompok dari berbagai kaum dan agama.
Diantara mereka ada yang sudah menganut ajaran Islam yang dibawa oleh Muhammad (yaitu kaum Anshar), ada yang masih memiliki budaya pagan atau penyembah berhala yang umumnya berasal dari suku Aus dan Khazraj, ada pula kelompok penduduk Yahudi yang terdiri dari Banu Qainuqa, Bani Quraiza, Banu'n Nadzir serta kelompok Yahudi Khaibar diutara Madinah. Kepada mereka ini pula Nabi Muhammad Saw telah menyerukan ajaran-ajaran Allah.
Lebih jauh, ayat-ayat al-Qur'an sendiri banyak sekali menyeru kepada Bani Israil agar mereka mendengarkan wahyu yang diturunkan oleh Allah kepada Nabi Muhammad Saw dan menegur kelakuan mereka yang buruk, baik terhadap ajaran Allah, terhadap para Nabi dan pengikutnya maupun kepada para masyarakat lainnya.
Apabila ada pihak yang masih berusaha menyandarkan akan petunjuk Yohanes dalam pasal ke-5 nya:
45 "Do not think that I will accuse you before the Father; the one who accuses you is Moses, in whom you have set your hope.
46 "For if you believed Moses, you would believe Me; for he wrote of Me.
47 "But if you do not believe his writings, how will you believe My words?"
Sekarang : Apa yang sudah pernah ditulis oleh Musa ?
Kita semua sudah tahu bahwa Musa bukan penulis kitabnya sendiri.
Jadi kalimat ini masih perlu kita selidiki lebih jauh, seberapa benar kalimat yang diungkapkan oleh Johanes ini.
Mungkin sebagai bahan referensi, bisa dibaca pula dalam alamat :
The Jews and the Mosaic Law ; Who Wrote the Pentateuch?
http://www.jewish-history.com/mosaic/chapter2.htm
The Torah in Modern Scholarship:
http://www.kencollins.com/bible-p2.htm
Dan sekarang, sebagai kunci akhir dari penjelasan ayat Ulangan 18 sebelumnya diatas, mari kita lihat Ulangan 34:10
Deuteronomy 34:10
"And there arose no more a prophet in Israel like unto Moses, whom the Lord knew face to face."
Jelas sekali disana dikatakan bahwa TIDAK AKAN ADA LAGI NABI SEPERTI MUSA YANG BANGKIT DARI ISRAIL.
Untuk itu, mengacu bahwa Jesus merupakan Nabi yang bangkit dari antara saudara Bani Israil yang dimaksud oleh Musa dalam kitab Ulangan sama sekali tidak valid sebab Nabi yang seperti Musa hanya akan bangkit dari luar Bani Israil, yaitu Bani Ismail dan dia adalah Nabi Muhammad Saw al-Amin sang Paraclete dan The Holy Spirit.


"STUDI KRITIS PEMAHAMAN ISLAM"
Oleh ARMANSYAH

Sponsor link:

0 komentar:

Copyright © 2013 Situs Berita Islam